Banyu Pinaruh Bercermin dari 60 Ribu Anak Prabu Sagara Diruwat Dewi Gangga

Sehari setelah Hari Raya Saraswati atau Redite (Minggu) Paing, Wuku Sinta disebut dengan Banyu Pinaruh

Banyu Pinaruh Bercermin dari 60 Ribu Anak Prabu Sagara Diruwat Dewi Gangga
Tribun Bali/Putu Supartika
Penglukatan Gangga Pratista di Pantai Mertasari Sanur, Denpasar, Minggu (14/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sehari setelah Hari Raya Saraswati atau Redite (Minggu) Paing, Wuku Sinta disebut dengan Banyu Pinaruh.

Saat Banyu Pinaruh, masyarakat Hindu di Bali akan melaksanakan upacara pelukatan ke sumber mata air, baik ke pantai maupun ke air klebutan.

Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda, Banyu Pinaruh ini memiliki arti air pengetahuan.

"Kita mohon tirta amerta setelah kemarin kita merayakan Hari Raya Saraswati," kata Ida usai muput acara Gangga Pratista di Pantai Mertasari Sanur, Minggu (14/10/2018).

Ida menambahkan, pengetahuan akan terjadi apabila diri kita telah bersih dan akan dialirkan melalui tirta amerta ini.

Karena bagaimanapun juga dari segi aspek mistik dan magis bahwa sesungguhnya segala mala, dosa, papa, pataka, wigna itu bisa dihanyutkan melalui kehadiran Dewi Gangga di bumi.

"Seperti apa yang ada dalam kisah Adi Parwa dimana teruatnya 60 ribu anak Prabu Sagara karena berani kepada Rsi Kapila, maka dengan demikian hanya dengan menurunkan Gangga ke-60 ribu anak Sagara diruwat untuk menuju pada kehidupan keabadian," kata Ida.

Keabadian yang dimaksud Ida adalah amerta kamandalu, amerta sanjiwani dan amerta pawitra.

Jika pada Banyu Pinaruh hanya mandi begitu saja ke laut, maka menurut Ida dengan adanya Gangga Pratista ini juga dilengkapi dengan upacara mapekelem mapahayuning jagat.

Sementara itu, ketua Pinandita Sanggraha Nusantara Korda Kota Denpasar, Pinandita Putu Gede Suranata menambahkan, penglukatan Banyu Pinaruh merupakan penglukatan bhuana agung dan bhuwana alit berkat penurunan tirta sanjiwani.

"Banyu Pinaruh berasal dari kata wruh yang berarti mengetahui atau menyadarkan diri. Sehingga dengan pengetahuan jadi bijaksana," katanya.

Pelukatan Banyu Pinaruh dengan pelukatan lainnya menurutnya berbeda, dimana penglukatan biasa biasanya disesuaikan dengan apa yang menjadi tujuan, sementara penglukatan Banyu Pinaruh ini erat kaitannya dengan turunnya ilmu pengetahuan. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved