16 Pedanda Istri Gelar Pertemuan Bahas Sarana Upakara Karya Agung di Pura Dasar Bhuana Gelgel

16 pedanda istri (sulinggih wanita) se-Kabupaten Klungkung menggelar pertemuan wantilan Pura Dasar Bhuana Gelgel, Klungkung.

16 Pedanda Istri Gelar Pertemuan Bahas Sarana Upakara Karya Agung di Pura Dasar Bhuana Gelgel
Tribun Bali/Eka Mita Putra
16 pedanda istri (sulinggih wanita) se-Kabupaten Klungkung menggelar pertemuan wantilan Pura Dasar Bhuana Gelgel, Klungkung. Pertemuan ini untuk membahas sarana upakara yang akan digunakan saat upacara Karya Agung Mamungkah di Pura Dasar Bhuana Gelgel yang akan dilaksanakan 31 Desember 2018 mendatang. 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - 16 pedanda istri (sulinggih wanita) se-Kabupaten Klungkung menggelar pertemuan wantilan Pura Dasar Bhuana Gelgel, Klungkung.

Pertemuan ini untuk membahas sarana upakara yang akan digunakan saat upacara Karya Agung Mamungkah di Pura Dasar Bhuana Gelgel yang akan dilaksanakan 31 Desember 2018 mendatang.

Jero Bendesa Pakraman Gelgel, Putu Gde Arimbawa menjelaskan, 16 pedanda istri yang dilibatkan dalam pertemuan itu antara lain Ida Pedanda Istri Gde Nabe dari Gria Aan, Ida Pedanda Istri dari Gria Bendul, Ida pedanda Istri Gria Jelantik, Ida Pedande Istri dari Gria Satria Kawan, Ida Pedanda Istri Gria Dawan Klod, Ida Perande Istri Gria Tengah Sengguan, Ida Pedanda Istri Gria Kediri, Ida Pedanda Istri Gria Pidada, Ida Peranda Istri Gria Kutuh, Ida Peranda istri Gria Jumpung,Ida Pedanda Istri Banjar Pande Kota,Ida Pedanda Istri Gria Kediri Kawan Kamasan, Ida Pedanda Istri Gria Anyar Satria, Ida Pedansa Istri Satria Kangin,Ida Perande Istri Gria Aan Kulon dan Selaku jayja mana, Ida Pedanda Gde Gria Jumpung, Gelgel.

" Pertemuan ini khusus untuk membahas sarana upakara atau jenis banten yang digunakan untuk karya agung ini," ujar Putu Gede Arimbawa, Sabtu (20/10/2018)

Selain sarana upakara, dalam pertemuan itu juga dirumuskan beberapa wewalungan (hewan kurban) dipersiapkan selama upacara berlangsung, seperti 1 ekor petu (kera), 1 ekor musang, 1 ekor lembu, 14 ekor kambing, 13 ekor kerbau, 13 ekor penyu, 5 ekor banteng, 2 ekor kijang .

" Jika untuk ayam maupun itik, diperkirakan akan menghabiskan kurang lebih 10 ribu ekor selama upacara berlangsung," jelasnya.

Krama desa Gelgel yang terdiri dari 28 banjar dari 3 Desa Dinas sudah mulai bergotong-royong untuk persiapan karya ini sejak 18 September lalu.

Puncak dari upacara kuno yang terakhir dilaksanakan 5 abad lalu ini, akan kembali dilaksanakan Senin, 31 Desember 2018 dan disineb tanggal 14 Januari 2019.

Secara resmi nuasen karya (memulai pekerjaan) dilaksanakan 24 oktober 2018.

Tujuan dari upacara ini, yaitu untuk menjaga kekuatan spiritual dari pura Dasar Bhuana Gelgel sebagai Kahyangan Jagat di Bali dan secara umum memohon menjaga keajegan bali secara kesuruhan.

Upacara ini sendiri merupakan upacara tingkatan utama (paling besar) yang terkahir dilaksanakan 500 tahun silam, atau saat masa keemasan Kerajaaan Gelgel dabawah pimpinan Dalem Waturenggong.

"Diharapkan masyarakat Hindu Dharma se Nusantara bisa memaknai ini dengan positif, dan diharapkan ikut tangkil, karena ini merupakan Pura Kahyangan Jagat milik semua masyarakat. leluhur membangun Pura Dasar Bhuana Gelgel ini untuk mempersatukan seluruh umat Hindu di seluruh Nusantara," jelasnya. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved