Agustina Thamrin: Saya Tak Rela Hutan dan Gunung Babak Belur Dihajar Penguasa dan Pengusaha

Agustina Thamrin melontarkan kritik terhadap kerusakan lingkungan lewat puisi

Agustina Thamrin: Saya Tak Rela Hutan dan Gunung Babak Belur Dihajar Penguasa dan Pengusaha
istimewa
Agustina Thamrin 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Orang bisa menuangkan apapun lewat puisi, termasuk mengkritik kerusakan lingkungan.

Agustina Thamrin, seorang penyair asal Banjarbaru Kalimantan, melontarkan kritik terhadap penguasa rakus yang dengan kekuasaannya telah merusak alam di Kalimantan.

Kritik lewat puisi itu dikumpulkan dalam buku puisi keduanya bertajuk “Mantra Malam”.

“Saya tak rela hutan dan gunung babak belur dihajar penguasa dan pengusaha rakus. Lewat puisi, saya ingin menyuarakan kesaksian saya tentang kerusakan alam di Kalimantan,” ujarnya.

Buku puisi ini memuat 75 puisi yang bertema alam dan kritik terhadap perusakan lingkungan.

Agustina mengatakan, dia sangat mencintai keindahan alam. Untuk itulah dia mengangkat alam sebagai tema dalam puisi-puisinya.

Dia tinggal dalam sosia-budaya Dayak Meratus dan Banjar. Puisi-puisinya banyak berbicara tentang kehidupan suku Dayak dan kehancuran alam di Kalimantan.

Buku puisi ini diluncurkan di Jatijagat Kampung Puisi, Jalan Cok Agung Tresna No. 109, Renon, Selasa (23/10) pukul 19.30 Wita. Acara peluncuran buku dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi.

Penyair yang tampil malam itu antara lain Wayan Jengki Sunarta, Nunung Noer El Niel, Winar Ramelan, Remmy Novaris DM. Selain itu, Agustina Thamrin juga tampil membawakan teaterisasi puisi yang berkisah tentang kehidupan suku Dayak dan ritual magisnya.

Peluncuran buku ini juga dimaknai pula dengan diskusi mengupas “Mantra Malam”. Hadir sebagai pembedah, penyair Warih Wisatsana (Bali) dan Conie Sema (Lampung) yang dipandu Riri Satria (Jakarta).

Untuk menyelesaikan buku puisi ini, Agustina melakukan riset selama dua tahun dan menyaksikan langsung kerusakan-kerusakan alam yang terjadi di Kalimantan.

Dia juga banyak bergaul dengan tokoh-tokoh dari suku Dayak. Dari pergaulan dan pengamatan yang intens itulah Agustina banyak melahirkan puisi yang sarat dengan suara-suara kepedihan dan kepiluan suku Dayak.

Agustina Thamrin lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 28 Agustus 1967. Dia menjadi instruktur vocal dan paduan suara di SLTA dan perguruan tinggi.

Sejak usia lima tahun berkesenian, khususnya di bidang seni suara, dididik langsung oleh alm ayahnya, H.A. Thamrin.

Ia beberapa kali meraih juara Bintang Radio dan Televisi jenis seriosa wanita tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Membelah Dada Banjarbaru” (2016). Puisi-puisinya juga termuat dalam sejumlah antologi bersama dan beberapa media massa. (*)

Penulis: Ida Ayu Suryantini Putri
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved