Kongres Penakamhi Ajang Bertukar Pikiran Para Penulis Hindu

Keberadaan penulis buku Hindu sangat penting dan penulisan sastra Agama Hindu ini berlanjut dari Jawa ke Bali

Kongres Penakamhi Ajang Bertukar Pikiran Para Penulis Hindu
Tribun Bali/Putu Supartika
Kongres Penakamhi di Grand Inna Bali Beach Sanur, Rabu (24/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sejak Sirna Ilang Kertaning Bumi, dipahami bahwa keberadaan penulis buku Hindu sangat penting dan penulisan sastra Agama Hindu ini berlanjut dari Jawa ke Bali.

Hal tersebut dikatakan oleh ketua panitia Kongres Penulis Kampus Hindu Indonesia, Ida Bagus Jelantik, Rabu (24/10/2018) di Gand Inna Bali Beach Sanur, Denpasar.

Ia menambahkan, sastra yang bernapaskan Hindu bukan karya seni belaka melainkan karya untuk tujuan agama.

"Kekawin-kekawin yang dulunya dikarang di Jawa kemudian berlanjut di Bali. Menurut penekun Bahasa Jawa Kuna, kekawin yang muncul di Bali tidak kalah kualitasnya dengan kekawin yang diciptakan di Jawa," kata Jelantik.

Buku-buku Hindu di Bali ini penting dalam pencerahan agama.

Dengan adanya kongres yang diikuti oleh 7 kampus Hindu ini, ia berharap dijadikan ajang penulis-penulis Hindu bertemu atau bertukar pikiran, ide, maupun gagasan sehingga muncul tulisan agama Hindu yang semakin baik.

"Kemajuan penulis Hindu memang semakin hari semakin baik," imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Dirjen Bimas Hindu, Made Sutrisna menambahkan, penulis jangan menilai bukunya sendiri melainkan mintalah kritik orang, semisal rekan sejawat sehingga betul-betul mendapat kritik yang bagus.

"Dengan adanya kritik, dari kreativitas menulis ini, tulisan dan konsep yang diyakini kebenarannya akan diajarkan ke anak didik," katanya.

Ia juga mengapresiasi munculnya generasi muda yang ikut menulis buku bernafaskan Hindu atau nyastra, sehingga hal ini menurutnya merupakan sebuah revitalisasi.

"Tradisi menulis sastra Hindu ini datang dari India dan berkembang saat zaman Majapahit untuk selanjutnya datang ke Bali sehingga ada namanya tradisi nyastra," katanya.

Walaupun sudah banyak lahir generasi muda yang nyastra, dirinya masih merasa kurang puas terkait geliat nyastra ini.

"Perlu memacu, membangkitkan budaya menulis, membaca dan mendarmawacanakan apa yang kita tulis," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved