Saham Konstruksi Masih Layak Dikoleksi, Ini Kata Analis

Fundamental emiten konstruksi masih kuat. Masih banyak infrastruktur yang perlu dibangun di Indonesia.

Saham Konstruksi Masih Layak Dikoleksi, Ini Kata Analis
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Ilustrasi- Karyawan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bali sedang mengecek indeks harga saham di kantornya di Jalan Sudirman, Denpasar, Selasa (5/5/2015) 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Arus kas memang sempat menjadi sorotan.

Namun, belum pulihnya peforma saham emiten konstruksi terutama pelat merah bukan berarti menunjukan fundamentalnya berada di ujung tanduk.

Analis BNI Sekuritas Maxi Liesyaputra mengatakan, masih loyonya saham emiten konstruksi lebih ke soal likuiditas.

"Jika kapitalisasi pasar sektor konstruksi dijumlah hingga dengan anak usaha, totalnya hanya sekitar 1% dari total kapitalisasi pasar IHSG," jelas Maxi di Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Sehingga, likuiditas yang masih terbatas itu membuat investor agak sulit untuk kembali masuk.

Ini yang menjadi alasan performa saham-saham tersebut belum pulih meski sentimen arus kas sudah mulai pudar.

Maxi menambahkan, ini justru menjadi peluang. Terlebih, valuasi keempat saham itu sudah murah.

"Tapi, lebih untuk investasi jangka panjang, bukan trading," imbuhnya.

Analis Phintraco Sekuritas Rendy Wijaya optimistis, fundamental emiten konstruksi masih kuat. Masih banyak infrastruktur yang perlu dibangun di Indonesia.

"Memasuki 2019 akan kembali bergeliat," kata Rendy.

Dia merekomendasikan buy saham WSBP, WSKT, WIKA dan JSMR. Target harganya masing-masing Rp 430, Rp 2.000, Rp 1.550 dan Rp 5.000 per saham. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved