Unik! Atasi Patah Hati Berlebihan, Mahasiswa Unud Gelar Pelatihan Move On

Seorang mahasiswa psikologi Universitas Udayana, I Putu Brian Obie Putra membuat pelatihan untuk menyembuhkan patah hati atau move on.

Unik! Atasi Patah Hati Berlebihan, Mahasiswa Unud Gelar Pelatihan Move On
Tribun Bali/Suryantini Putri
I Putu Brian Obie Putra (depan) dan peserta pelatihan (belakang) sedang berdiskusi bersama psikolog yang mendampingi, Minggu (28/10/2018) di halaman BKKBN Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Merasakan sakit karena ditinggal oleh orang terkasih memang berat.

Apalagi sakit psikologis itu bisa berujung pada sakit fisik, seperti turunnya atau naiknya berat badan secara drastis.

Baca: Konferensi Our Ocean di Bali, Oceana Dukung Upaya Pengurangan Produksi Plastik

Baca: Dihantam Yamaha Vixion, Nyawa Pekak Ketut Kenyab Melayang, Terpental 5 Meter

Baca: Warga Tempek Klod Kauh Memohon Keselamatan Bangsa Saat Prosesi Shafaran di Makam Balok Sakti

Baca: Ternyata Video HT Polantas yang Dirampas Pengendara Berbuntut Panjang, Begini Nasib Sang Pria Arogan

Meski hampir setiap remaja pernah mengalaminya, tetapi luka psikologis ini tak bisa dianggap remeh.

Jika dibiarkan, ia akan sangat mengganggu produktivitas hingga turunnya tingkat percaya diri pada remaja. Bahkan, pernah terjadi kasus, remaja mengakhiri hidupnya karena patah hati.

Melihat dampaknya yang cukup serius, seorang mahasiswa psikologi Universitas Udayana, I Putu Brian Obie Putra membuat pelatihan untuk menyembuhkan patah hati atau move on.

Ia memberi tagline “Move On itu Melangkah Maju, bukan Melupakan”. Saat mencoba move on, yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan dan memulai lagi bukan berusaha melupakan.

Untuk memulai pelatihan ini, ia mengumpulkan para remaja yang pernah atau sedang mengalami patah hati.

Sebelum mengikuti sesi, remaja tersebut diberi pertanyaan seputar penyebab dan yang dialaminya. Dari sana, ia mendapat data bahwa penyebab patah hati di Bali sangat kompleks, dari kasta, nyentana, agama, dan orangtua.

Menurutnya, cara terbaik untuk menyembuhkan patah hati adalah pertama menyadari bahwa sedang dalam masalah dan punya keinginan untuk move on, yang kedua adalah mau cerita.

“Di sini banyak sekali individu yang mau daftar, kalau pendaftaran itu ada 48 orang tapi yang datang cuma 20, dan banyakan temennya yang daftarin. Dia merasa nyaman, bahwa aku bisa perjuangin ini padahal si temannya bilang udah parah banget. Kalau kayak gitu, kita enggak bisa masuk karena dia enggak sadar makanya perlu kesadaran kalau dia mau move on,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Ida Ayu Suryantini Putri
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved