Minta Kesuburan dan Berkah, Krama Patas Gelar Tradisi Klincang Klincung

Dalam rangka meminta kesuburan alam semesta dan berkah bagi umat manusia, krama Banjar Patas menggelar tradisi mekincang-kincung

Minta Kesuburan dan Berkah, Krama Patas Gelar Tradisi Klincang Klincung
Istimewa
Seorang krama Banjar Patas berusaha naik ke atas penjor sembari bertahan dari gangguan krama lain, dalam tradisi Klincang Klincung, Sabtu (27/10/2018) malam. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dalam rangka meminta kesuburan alam semesta dan berkah bagi umat manusia, krama Banjar Patas, Desa Taro, Tegalalang menggelar tradisi mekincang-kincung, di Pura Puseh Bale Agung setempat, Sabtu (27/10/2018) malam.

Bentuk tradisi ini laiknya lomba panjat pinang.

Namun dalam tradisi ini tidak menggunakan batang pohon pinang, melainkan sebuah penjor bambu setinggi lebih dari 10 meter.

Berdasarkan data yang diterima Tribun Bali, dari krama Banjar Patas, tradisi ini merupakan ritual tahunan yang hanya digelar menjelang puja wali kepitu di Pura Puseh Bale Agung.

Tradisi ini, umumnya diikuti generasi muda setempat.

Gelaran tradisi ini didahului dengan ritual mengelili penjor oleh prajuru setempat.

Warga Banjar Patas, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Sabtu (27/10/2018) , menggelar Tradisi Mekincang-Kincung.

Setelah memastikan sampian di atas penjor, masih terikat kuat, generasi muda berlomba-lomba naik ke atas penjor mendapatkan sampian (anyaman daun bambu) yang ada di puncak penjor.

Penyarikan Desa Pakraman Patas, I Ketut Wija mengatakan, sampian merupakan simbol dari kesuburan.

Alasan sampian tersebut digantung pada puncak penjor dengan bambu yang relati kecil ini, merupakan simbol bahwa kesuburan dan berkah bukanlah sesuatu yang instans untuk didapatkan.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved