Petani Pasrah Hasil Kebunnya Mati, Hanya Berharap Yeh Hujan Agar Bisa Garap Lahan

Kemarau panjang yang terjadi sejak bulan Agustus hingga kini mulai berdampak untuk para petani di wilayah Subak Sidawa

Petani Pasrah Hasil Kebunnya Mati, Hanya Berharap Yeh Hujan Agar Bisa Garap Lahan
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ni Putu Alit menunjukkan lahan garapan ketela rambat yang mengering di Subak Sidawa, Desa Taman Bali, Senin (29/10/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Kemarau panjang yang terjadi sejak bulan Agustus hingga kini mulai berdampak untuk para petani di wilayah Subak Sidawa, Desa Tamanbali.

Sejumlah lahan pertanian di wilayah ini terlihat mengering hingga tanamannya mati.

Seorang petani, Ni Putu Alit mengatakan, kekeringan lahan pertanian telah dirasakan sejak tiga tahun lalu.

Ini disebabkan mengecilnya debit air dari Bendungan Sidembunut sehingga aliran air tidak sampai hingga Subak Sidawa.

Sedangkan untuk mengaliri lahan pertanian, diakui hanya mengandalkan musim penghujan.

“Di sini kami hanya mengandalkan air hujan saja baru bisa menggarap lahan untuk tanaman padi. Kalau musim kemarau seperti sekarang, kebanyakan petani membiarkan lahannya nganggur dan beralih menanam ketela rambat karena tidak banyak membutuhkan air,” ucapnya, Senin (29/10/2018).

Walaupun tidak terlalu banyak membutuhkan air, kekeringan tidak dapat dihindarkan.

Tanaman ketela rambat miliknya pun banyak yang layu.

Sejumlah petani sekitar juga terpaksa panen lebih awal, meski hasilnya kurang memuaskan.

“Kalau ketela rambat baru bisa dipanen tiga bulan. Sedangkan saat ini usia tanaman baru dua bulan. Memang hasilnya (umbi) kecil-kecil. Tapi mau bagaimana lagi karena lahannya sangat kering jika terus dibiarkan tanaman tidak bisa berkembang, selain itu juga akan membusuk,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved