Hoesen : Fintech Bisa Sinergi Dengan Perusahaan Efek

ASF AGM adalah pertemuan tahunan, yang diadakan bergilir di berbagai negara dengan asosiasi anggota ASF bergilir menjadi tuan rumah.

Hoesen : Fintech Bisa Sinergi Dengan Perusahaan Efek
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Hoesen berpose bersama anggota APEI dan anggota pertemuan lainnya beserta OJK Regional 8 Bali Nusa Tenggara di Sofitel, Nusa Dua, Badung, Kamis (1/11/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asia Securities Forum Annual General Meeting (ASFAGM) ke-23.

ASF AGM adalah pertemuan tahunan, yang diadakan bergilir di berbagai negara dengan asosiasi anggota ASF bergilir menjadi tuan rumah.

Saat ini anggota ASF berjumlah 23 asosiasi yang tersebar di 18 negara. Salah satu agenda yang dilakukan adalah ‘Bali Declaration on Commitment to SDGs’ di Nusa Dua, Badung, Bali.

Acara ini juga mendukung dan mendorong pengembangan serta pemeliharaan pasar sekuritas.

Bertujuan membangun pasar yang adil dan efisien, yang mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Hoesen, menjelaskan goal pertemuan annual meeting ini juga membahas tentang perkembangan fintech dan pengaruhnya terhadap industri pasar modal.

“Kita menyambut baik inisiatif APEI, dan ini dihadapi oleh semua perusahaan efek atau enterprenuer di pasar modal di Asia,” katanya di Sofitel, Nusa Dua, Badung, Kamis (1/11/2018).

Terkait perkembangan fintech, kata dia, ada dua sisi yakni dengan perkembangan yang bagus dan makin mempermudah masyarakat atau pasar untuk tumbuh.

“Kedua kalau tidak disikapi dengan bijaksana dan baik, akan merusak tatanan atau bisnis yang selama ini telah dilakukan. Istilahnya fintech jangan merusak perekonomian atau bisnis yang sedang dijalankan,” jelasnya.

Untuk itu diperlukan sharing diantara negara-negara ini. Kemudian bisa disikapi perkembangan fintceh dengan bijaksana, bahkan bisa bersinergi dengan perusahaan efek yang menjadi fungsi intermediasi di pasar modal.

“Fintech itu kan banyak. Indonesia punya tantangan besar, karena negara kepulauan banyak masyarakat tersebar di berbagai pulau. Jadi untuk bisa mengakses dan masuk ke pasar modal sebagai investor, mau beli terkadang juga terkendala biaya eksekusi mahal. Mudah-mudahan dengan fintech ke depannya menjadi lebih murah. Beberapa potensi investor yang selama ini tidak terjangkau bisa dijangkau,” jelasnya.

Sama seperti pialang, yang awalnya berfungsi sebagai eksekusi kini lebih kepada memperkenalkan pasar modal, maintenance, mengedukasi, menginformasi hasil research dari perkembangan emiten dan lain sebagainya. (*)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved