Menteri Perdagangan Enggartiasto Suka Makan Gorengan

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita melontarkan guyonan atau joke ketika memberikan sambutan dalam acara 14th IPOC

Menteri Perdagangan Enggartiasto Suka Makan Gorengan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat menyampaikan paparan dalam acara 14th IPOC 2018 di Mangupura Hall, BICC, Nusa Dua, Badung, Kamis (1/11/2018) siang. 

TRIBUN-BALI.COM, NUSA DUA -Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita melontarkan guyonan atau joke ketika memberikan sambutan dalam acara 14th IPOC (Indonesian Palm Oil Conference) 2018 & Price Outlook 2019 di BICC, Nusa Dua, Badung, Kamis (1/11/2018) siang.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution membuka acara tahunan itu, yang diikuti oleh para pelaku bisnis sawit dan terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Menanggapi sikap sejumlah negara yang melakukan kampanye negatif terhadap sawit dan produk sawit (minyak goreng) serta produk turunannya (antara lain sabun, sampo, kosmetik dll) terutama yang dari Indonesia, Enggartiasto mengatakan bahwa justru sawit memiliki lebih banyak manfaat dan keunggulan dibandingkan minyak nabati dari bahan-bahan yang lain.

"Saya bilang ke mereka yang berkampanye negatif, saya sekarang berusia 67 tahun dan sehat-sehat saja. Tahu kenapa? Ya karena saya gak anti gorengan. Saya suka makan gorengan," ujar Enggartiasto sembari tersenyum, yang kemudian disambut tawa dan tepuk meriah hadirin yang memenuhi Mangupura Hall BICC.

Menurut Enggartiasto, pihak-pihak yang berkampanye negatif terhadap sawit, misalnya dengan menuding perkebunan sawit sebagai salah-satu penyebab deforestasi, bertindak tidak fair. Sebab, sebetulnya ada kepentingan atau persaingan dagang di baliknya.

Kendati demikian, Enggartiasto meminta kepada kalangan persawitan Indonesia, terutama GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), untuk tidak hanya reaktif terhadap kampanye negatif tentang sawit.

Untuk diketahui, sawit merupakan komoditas ekspor nasional dengan kontribusi devisa paling besar saat ini. Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia.

"GAPKI juga harus proaktif, tidak sekadar reaktif. Jadi, bikinlah kampanye positif tanpa menunggu ada lagi kampanye negatif," kata Enggartiasto, yang berlatar belakang politik dari Partai Nasdem.

Enggartiasto juga mengungkapkan kegeramannya terhadap tudingan bahwa perkebunan sawit tidak ramah terhadap satwa liar, seperti monyet.

"Kok dibilang tidak ramah? Jadi mereka lantas saya suruh datang dan saksikan sendiri bagaimana perkebunan sawit kita dikelola. Itu ada seekor saja monyet yang lari dari kebun, terus di-blow up informasinya oleh LSM yang sinis dan kemudian disebut 'banyak monyet terganggu atau ada monyet mati'," kata Enggartiasto.

"Perhatikan ya, kami dan pemerintah ini sangat peduli lingkungan. Kami juga marah dan tak ingin ada satwa liar terganggu. Cuma informasi yang keluar itu tidak balance. Apalagi yang mati cuma seekor monyet, terus dibikin kampanye hitam yang menggeneralisasi perkebunan sawit. Itu kan dampaknya bisa merugikan ribuan orang yang hidup dari sawit," sambung Enggartiasto.

Padahal, kata dia, menurut penelitian justru perkebunan sawit itu lebih baik dalam urusan terkait lingkungan dibandingkan dengan perkebunan minyak nabati lainnya seperti minyak jagung atau minyak dari bunga matahari.

Kendati demikian, Enggartiasto mengingatkan GAPKI dan pelaku usaha persawitan agar tidak menganggap enteng kampanye-kampanye negatif tersebut.

Sebab, jika kampanye negatif itu sudah teredukasikan ke masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara seperti Uni Eropa, maka bisa saja terjadi generasi konsumen berikutnya akan meninggalkan konsumsi minyak sawit.

"Itu bisa membuat bisnis sawit sunset, atau meredup. Karena itu sekali lagi perlu kampanye positif yang dilakukan secara proaktif," kata Enggartiasto.(sunarko)

Penulis: Sunarko
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved