Merayakan Pertukaran Ide dan Gagasan di Tahun ke-15 Ubud Writers & Readers Festival

UWRF telah menjadi wadah bagi para penulis, seniman, sutradara, pegiat, dan cendekiawan dari seluruh dunia untuk merayakan gagasan,

Merayakan Pertukaran Ide dan Gagasan di Tahun ke-15 Ubud Writers & Readers Festival
Istimewa
Pada Kamis (25/10/2018) di Neka Museum, UWRF dibuka dengan sambutan dari Susi Pudjiastuti. 

Laporan wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUNBALI.COM, GIANYAR - Lima belas tahun yang lalu, Ubud Writers & Readers Festival diselenggarakan pertama kali sebagai upaya penyembuhan atas tragedi dari bom Bali.

Kini, UWRF telah menjadi wadah bagi para penulis, seniman, sutradara, pegiat, dan cendekiawan dari seluruh dunia untuk merayakan gagasan, ide, serta kisah-kisah hebat mereka.

Dari Indonesia ke Jepang, Pakistan ke Inggris, Spanyol ke Vietnam, lebih dari 180 pembicara dari 30 negara termasuk Indonesia berkumpul di UWRF untuk merayakan tahun ke-15 festival.

Pada tanggal 24-28 Oktober lalu, UWRF telah berhasil menghadirkan lebih dari 200 program acara mulai dari panel diskusi, lokakarya, acara spesial, pemutaran film, peluncuran buku, pameran seni, pertunjukkan musik, dan masih banyak lagi.

Dimulai pada hari Rabu (24/10/2018) sore, UWRF menggelar Press Call di Desa Visesa Ubud bersama Founder Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana dan Co-Founder & Director UWRF Janet DeNeefe serta pembicara-pembicara utama UWRF 2018 seperti salah satu penulis terbaik dari Inggris Hanif Kureishi, penulis dan jurnalis pemenang penghargaan Reni Eddo-Lodge, penulis sekaligus arsitek Avianti Armand, dan penulis muda Indonesia berbakat Norman Erikson Pasaribu.

Pembahasan mengenai feminisme, keberagaman, kebebasan berekspresi, sastra yang berkembang dan manfaatnya yang meluas terangkat pun dalam tanya jawab bersama para pembicara dan jurnalis yang hadir dalam Press Call tersebut.

Selain itu, Press Call ini juga menjabarkan penjelasan menarik mengenai ‘Jagadhita’ atau ‘The World We Create’ sebagai tema yang diangkat tahun ini, yaitu tentang pencarian manusia akan kebahagiaan di dalam dunia yang kita ciptakan.

Janet DeNeefe juga menceritakan perjalanan festival hingga telah memenuhi salah satu misinya menjadi jembatan bagi para penulis Indonesia agar karyanya lebih dikenal dunia.

“Ketika kita merenungkan 15 tahun terakhir dan bagaimana festival telah berkembang, ketika kita melihat kembali interaksi antara para penulis dan pembaca Indonesia dan internasional, sekiranya ada satu hal yang cukup jelas. Sebagian besar peserta festival awalnya mengatakan bahwa mereka tidak tahu apapun tentang penulis Indonesia, tetapi sekarang telah berubah. Orang-orang duduk [di panel diskusi UWRF] dan benar-benar memperhatikan,” ujarnya dalam rilis yang diterima Tribin Bali pada Kamis (1/11/2018).

Halaman
1234
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved