Seminar OJK Pembiayaan Sektor Riil dan Infrastruktur Lewat RDTP dan Obligasi Daerah

Dalam rangka meningkatkan awareness dan pemahaman pemerintah, OJK mengadakan seminar

Seminar OJK Pembiayaan Sektor Riil dan Infrastruktur Lewat RDTP dan Obligasi Daerah
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Hoesen. 

TRIBUN-BALI, MANGUPURA - Dalam rangka meningkatkan awareness dan pemahaman kepada pemerintah daerah, badan usaha milik daerah, dan perusahaan swasta di daerah Bali, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan seminar dengan judul ‘Pembiayaan Sektor Riil dan Infrastruktur Melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDTP) dan Obligasi Daerah’ di Pullman Legian Beach Hotel.

Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, menyatakan pembiayaan melalui Reksadana Penyertaan Terbatas dan Obligasi Korporasi bertumbuh secara positif setiap tahunnya.

Hal ini menandakan bahwa pasar modal berpotensi menjadi sumber pendanaan alternatif bagi sektor riil termasuk sektor infrastruktur di Indonesia.

Selain itu, potensi tersebut dapat pula digali oleh pemda untuk menerbitkan obligasi daerah dalam membangun di daerah masing-masing.

“RDPT (Reksa Dana Penyertaan Terbatas) sebagaimana diatur dalam POJK nomor 37/POJK.04/2014, merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari investor profesional, yang selanjutnya diinvestasikan oleh manajer investasi kepada efek berbasis sektor riil,” tegas Pudjo Damaryono, Kepala Bagian Pendaftaran Produk Pengelolaan Investasi.

Ia memberikan pula beberapa keunggulan skema RDPT yaitu sumber pembiayaan dengan nilai yang besar, tidak adanya cicilan pokok, tidak diperlukan jaminan sepanjang mendapatkan peringkat investment grade, struktur pembiayaan fleksibel, serta adanya insentif perpajakan bunga obligasi bagi investor.

RDPT telah berhasil membiayai beberapa proyek infrastruktur strategis seperti pembangunan Sky Train di Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang sebesar Rp 315 miliar.

Pembangunan ruas jalan tol Semarang-Batang, Solo-Ngawi dan Ngawi-Kertosono sebesar Rp 3 triliun, dan ruas jalan tol Kanci, Pasuruan-Probolinggo, dan Pejagan-Pemalang sebesar Rp 5 triliun.

Kemudian pembangunan beberapa hotel di Klungkung dan Nusa Dua Bali dengan total pembiayaan sebesar Rp 150 miliar.

“Dalam mendapatkan pembiayaan melalui RDPT, perusahaan menerbitkan efek bersifat utang (seperti medium term notes, promissory notes, dan obligasi), serta efek bersifat ekuitas yang tidak dilakukan melalui penawaran umum,” ujar Bambang Siswaji, narasumber dari Manajer Investasi.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved