Membincangkan Potensi Seni Grafis di Bali

Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan sebuah program Timbang Pandang atau dialog seputar Potensi Seni Grafis Bali

Membincangkan Potensi Seni Grafis di Bali
Istimewa

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan sebuah program Timbang Pandang atau dialog seputar Potensi Seni Grafis Bali, Jumat (2/11/2018).

Bersama narasumber Wayan Sujana Suklu (perupa, akademisi) dan Made Susanta Dwitanaya (kurator dan pegiat Komunitas Studio Grafis Undiksha), dibincangkan perihal perkembangan seni grafis di Bali, seraya membandingkannya dengan dinamika di kota-kota lain di Indonesia, seperti Yogyakarta ataupun Bandung.

Disampaikan Made Susanta, dalam konteks seni rupa Bali, aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu mengemuka jika dibandingkan dengan seni visual lainnya.

Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya-karya seni grafis masih terbilang langka, sehingga pewacanaan tentang bidang seni ini di Bali boleh dikata jarang terdengar.

Dibandingkan dengan ekspresi seni rupa lainnya, terlebih seni lukis dan patung, seni grafis boleh dikata tertepis, belum memeroleh apresiasi dan publikasi secara lebih memadai, serta terbatasnya animo kolektor dan peminat karya grafis.

“Padahal seni grafis ini sudah diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan di perguruan tinggi, semisal yang pernah saya pelajari di Undiksha Singaraja. Tapi baru sejak tahun 2007 banyak mahasiswa Undiksha yang mulai memilih konsentrasi seni grafis sebagai tugas akhir, di mana kebanyakan mengedepankan teknik cukil kayu. Selain karena kemudahan memeroleh bahan, saya kira hal ini (pemilihan teknik cukil kayu) ada kaitannya dengan tradisi mengukir yang tumbuh dalam masyarakat Bali selama ini, “ ungkap Susanta.

Kian bertumbuhnya minat mahasiswa dan alumni seni rupa Undiksha terhadap seni grafis, pada tahun 2014 Susanta dan kawan-kawannya kemudian mendirikan komunitas pegrafis B-Tjap atau Buleleng Tjap,  yang belakang  berkembang menjadi Studio Grafis Undiksha.

Sementara itu, Wayan Sujana Suklu mengapresiasi inisiatif dan konsistensi Bentara Budaya dalam menyelenggaraan Kompetisi Triennial Seni Grafis, yang kini telah menginjak penyelenggaraan ke–VI dan dibuka untuk skala internasional.

“Dengan adanya kompetisi, pameran, juga membuka forum dialog dan workshop grafis, ini merupakan sebuah upaya untuk menjadikan seni grafis lebih meradiasi ke masyarakat. Mungkin hal yang perlu dikelola lebih jauh adalah bagaimana menjadikan seni grafis lebih diminati oleh kolektor,“ ujar Suklu.

Terlepas dari hal-hal teknis atau pembahasan soal konvesi seni grafis, Suklu lebih menyoroti perihal bagaimana medium dan teknik dalam karya seni dapat menjadi konsep penciptaan.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved