Pameran Ambang Embang, Tujuh Perupa Memaknai Kosong

Ambang Embang adalah tajuk pameran lukisan yang akan digelar malam ini di Arma Museum

Pameran Ambang Embang, Tujuh Perupa Memaknai Kosong
Istimewa
Display karya dalam pameran bertajuk Ambang Embang, di ARMA Museum, Pengosekan, Ubud, Senin (5/11/2018) malam ini. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ambang Embang adalah tajuk pameran lukisan yang akan digelar di Arma Museum, Pengosekan, Ubud, Senin (5/11/2018) malam ini.

Pameran ini akan dibuka, Senin (5/11/2018) pukul 19.00 WITA dan akan berlangsung hingga 5 Desember 2018.

Tujuh perupa ikut dalam pameran ini yaitu I Gusti Ngurah Putu Buda, I Made Galung Wiratmaja, I Kadek Agus Ardika, Komang Trisno Adi Wirawan, I Nyoman Diwarupa, I Ketut Sugantika, dan I Ketut Agus Murtika.

Pameran Lukisan Ambang Embang
Tujuh perupa ikut dalam pameran Ambang Embang (Istimewa)

Salah seorang seniman yang ikut berpameran, Komang Trisno Adi Wirawan mengatakan, ambang memiliki makna harfiah sesuatu yang berada di antara ruang kosong, dan embang adalah sebuah tempat yang sengaja dikosongkan.

"Sebagai makna kiasan ambang embang adalah sebuah ruang yang sengaja dikosongkan. Dia adalah ruang bukan tempat, dia tidak berada di sana maupun di sini, dan bukan entitas yang bisa ditunjuk begitu saja," katanya ketika dihubungi, Senin (5/11/2018) siang.

Ia menambahkan, ambang embang merupakan sesuatu yang akan baru mau menjadi dan bukan sebagai sesuatu yang sudah menjadi.

Merupakan ruang pembebasan sesungguhnya, dalam konteks ini seni sebagai salah satu artefak kebudayaan, dimana subjek yang hadir lebih berjarak dan mulai menjauhkan diri dari penjara tanda-tanda kebudayaan, atau penghadiran bentuk yang dibebaskan dari setiap nilai-nilai tradisi dan batasan sosial.

"Dari sebuah pembebasan, hingga referensi diri dan kritik diri, subjek bisa dilihat sebagai subjek pencerahan. Dimana manusia adalah individu yang sepenuhnya terpusat tunggal yang memiliki kemampuan nalar, kesadaran, tindakan, dan pusat berisik inti batin serta pusat esensial diri adalah identitasnya," imbuhnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved