Terkait Banyaknya Pelamar CPNS yang Tak Memenuhi Passing Grade SKD, Ini Kata Sosiolog Unud

Sosiolog Universitas Udayana yang juga pegiat di Sanglah Institute, Wahyu Budi Nugroho mengatakan, penentuan passing grade

Terkait Banyaknya Pelamar CPNS yang Tak Memenuhi Passing Grade SKD, Ini Kata Sosiolog Unud
TRIBUN BALI/PUTU SUPARTIKA
Peserta SKD melihat hasil CAT di layar yang telah disediakan di Makodam IX Udayana 

Terkait Banyaknya Pelamar CPNS yang Tak Memenuhi Passing Grade SKD, Ini Kata Sosiolog Unud

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sosiolog Universitas Udayana yang juga pegiat di Sanglah Institute, Wahyu Budi Nugroho mengatakan, penentuan passing grade dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS sengaja dilakukan pemerintah untuk membatasi jumlah peserta yang lolos ke tahap berikutnya.

Menurutnya, hal ini adalah wajar yang juga sekaligus memudahkan kerja penyelenggara dalam proses seleksi.

Akan tetapi, dengan banyaknya peserta yang tidak lolos passing grade pada SKD ini, menurutnya pemerintah ataupun penyelenggara mengambil sebuah kebijakan alternatif semisal dengan melakukan perengkingan.

Baca: Dua Jam Gelar Operasi Zebra Agung di Jalan Sesetan, Polisi Catat 57 Pelanggaran

Baca: Pelukan Keluarga Korban Pesawat Jatuh untuk Kabasarnas, Saya hanya Berusaha dan Mendoakan

Baca: Peringati Hari Korpri, Jajaran Kodam IX/Udayana Bersih-Bersih Lingkungan di Kepaon

"Banyaknya peserta yang tidak lolos dan akhirnya kosong. Seharusnya disikapi dengan kebijakan alternatif. Misalkan, dalam suatu daerah seluruh peserta tidak lolos, harusnya penyelenggara bisa mengambil nilai yang tertinggi atau direngking walaupun mereka tidak ada yang lolos passing grade," kata Wahyu ketika dihubungi Tribun-Bali.com, Selasa (6/11/2018) petang.

Jika tidak diambil langkah alternatif maka hal ini justru akan merepotkan juga apalagi ketika dalam suatu daerah satupun peserta tidak ada yang lolos.

Sementara itu, dari wawancara beberapa peserta yang tidak memenuhi passing grade, kebanyakan dari mereka yang terkendala pada Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dan kebanyakan mengaku bingung dengan pilihan jawaban yang disediakan.

Baca: Stefano Lilipaly Kembali ke Timnas Indoneia, Coach Bima Ingin Turunkan Skuat Terbaik

Baca: Live Streaming RCTI - Head to Head Timnas Indonesia Vs Singapura, 8 Laga Singapura Mendominasi

Baca: Timnas Indonesia Pertajam Bola Mati, Coach Bima Sebut Sangat Krusial

Menurut Wahyu, sebetulnya tes tersebut tidak membingungkan karena TKP ini digunakan untuk mengukur sejauhmana karakter peserta sesuai dengan nilai, norma, dan budaya masyarakat pada umumnya.

"Jadi kalau jawaban peserta sesuai diri peserta dan dijawab dengan jujur disatu sisi itu baik karena si peserta jujur. Tapi, kalau itu tidak sesuai dengan nilai, norma, dan budaya masyarakat itu bermasalah juga. Mirip seperti tes kejiwaan atau psikotes kalau jawaban anda jujur anda bisa tidak lulus tes kejiwaan dan bisa saja peserta dianggap mengalami gangguan jiwa," paparnya.

Tes semacam ini juga untuk mengukur sejauh mana karakter seseorang sesuai dengan nilai sosial yang ditanamkan sejak kecil yang sesuai nilai, norma, dan budaya masyarakat.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved