BPJS Kesehatan Singaraja

Bujaman: Saya Bangga Jadi Kader JKN

Kader JKN adalah orang atau warga masyarakat yang bekerja sama sebagai mitra BPJS Kesehatan berdasarkan hubungan kemitraan

Bujaman: Saya Bangga Jadi Kader JKN
BPJS Kesehatan Singaraja
Kader JKN, Bujaman. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Salah satu strategi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2019 adalah dengan meningkatkan kolektabilitas iuran, dan melakukan sosialisasi program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) secara masif kepada masyarakat, yakni melibatkan masyarakat sebagai mitra BPJS Kesehatan dalam program Kader JKN.

Kader JKN adalah orang atau warga masyarakat yang bekerja sama sebagai mitra BPJS Kesehatan berdasarkan hubungan kemitraan, yang menjalankan sebagian fungsi BPJS Kesehatan dalam suatu wilayah tertentu yang memiliki kapasitas sesuai dengan kriteria tertentu dan direkrut oleh BPJS Kesehatan.

Dimana fungsi Kader JKN adalah sebagai pengingat dan pengumpul iuran, fungsi pemasaran sosial, fungsi kepesertaan, fungsi pemberi informasi dan penerima keluhan.

Ketut Bujaman (35) adalah salah satu Kader JKN di Kabupaten Buleleng yang termasuk wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Singaraja.

Bujaman menjalankan tugasnya sebagai kader JKN yang sehari-hari melakukan kunjungan dari pagi hingga sore hari.

Bujaman mengaku berbagai macam tantangan yang dihadapi di lapangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja menjadi kader JKN yang penuh semangat dalam melayani masyarakat.

“Saya bangga menjadi Kader JKN, profesi ini menurut saya sangat mulia karena dapat membantu langsung masyarakat, dalam memberikan edukasi terkait program JKN-KIS dengan melayani langsung masyarakat ke rumahnya. Banyak cara yang saya lakukan agar informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat binaan saya,” jelas  pria asal Buleleng ini, Rabu (7/11/2018).

Masyarakat yang menjadi peserta binaan Kader JKN adalah masyarakat desa yang telah menjadi peserta JKN-KIS dengan kriteria menunggak iuran, dan masyarakat yang ingin mendaftar sebagai peserta JK-KIS dari segmen peserta bukan penerima upah (PBPU).

“Masyarakat yang saya kunjungi adalah masyarakat yang telah menjadi peserta JKN-KIS, namun menunggak iuran. Saya dengan penuh keyakinan untuk dapat mengedukasi peserta agar mereka sadar akan kewajibannya rutin membayar iuran setiap bulannya. Selain peserta menunggak iuran yang saya kunjungi, saya juga mengunjungi masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS, untuk mendaftarkan diri beserta anggota keluarganya sebagai peserta JKN-KIS, tentunya dengan edukasi yang tepat agar nantinya setelah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS tetap rutin dalam memenuhi kewajibannya membayar iuran. Saya berusaha meyakinkan masyarakat bahwa menjadi peserta JKN-KIS sangatlah bermanfaat,” imbuhnya.

Ia juga menceritakan suka duka menjadi seorang Kader JKN.

Terkadang ia disambut tidak baik oleh peserta yang kurang berkenan untuk membayar iuran yang ditunggaknya, namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk tetap meyakinkan peserta.

“Justru saya semakin gigih untuk membina peserta tersebut. Ketika peserta tersebut sadar bahwa program JKN-KIS ini sangatlah bermanfaat dan siap untuk membayar iuran yang ditunggaknya. Ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan. Saya bangga menjadi Kader JKN, karena secara tidak langsung saya telah ikut serta berkontribusi membantu masyarakat,” tutur Bujaman.

Dengan adanya Kader JKN, diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta JKN-KIS mengenai program JKN-KIS, seperti membayar iuran tepat waktu, pengetahuan tentang denda pelayanan yang diakibatkan dari keterlambatan membayar iuran, termasuk juga informasi terkait kanal-kanal pembayaran iuran, serta informasi terkait program JKN-KIS agar dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.(*)

Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved