Waspadai Penggunaan Antibiotik Berlebihan, Kasus Resistensi Antimikroba Meningkat  

Fenomena baru ini yakni ditemukannya peningkatan kasus resistensi antimikroba yang cukup signifikan

Waspadai Penggunaan Antibiotik Berlebihan, Kasus Resistensi Antimikroba Meningkat   
Tribun Bali/M Ulul Azmy
KUNJUNGAN - Para delegasi GHSA dari berbagai dunia meninjau aktivitas penanganan dan pengendalian antibiotika di sal Nusa Indah RSUP Sanglah, Kamis (8/11/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam pertemuan sejumlah negara yang tergabung dalam Global Health Security Agenda (GHSA) Ministerial Meeting menyebutkan adanya fenomena ancaman kesehatan global baru selain fenomena zoonosis (infeksi penyakit dari hewan).

Fenomena baru ini yakni ditemukannya peningkatan kasus resistensi antimikroba yang cukup signifikan.

Bahkan kasus ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. 

Tingginya kasus resistensi bakteri ini diakibatkan penggunaan antibiotik secara berlebihan, tidak sesuai indikasi, kurangnya pemahaman masyarakat, serta mudahnya akses mendapatkan antibiotik.

Peduli akan hal itu, 15 delegasi GHSA menyambangi RSUP Sanglah sebagai fasilitas kesehatan rujukan yang dianggap berkomitmen dalam pengendalian resistensi antimikroba, Kamis (8/11/2018).

Dalam kunjungan itu, mereka diperlihatkan penanganan RSUP Sanglah terhadap pasien dengan penyakit menular di sal Nusa Indah, juga fasilitas penunjang pengendalian yang berpusat di laboratorium mikrobiologi.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPPRA) RSUP Sanglah, Dr I Wayan Suranadi, Sp. An (KIC) mengungkapkan, di seluruh dunia kini mulai mengantisipasi jenis kuman atau bakteri paling ditakuti karena para ahli belum menemukan zat antibiotik untuk mencegahnya. 

Jenis kuman ini meliputi methicillin resistant staphylococcus aureus, Ecepsiola pnemoni dan neto bakker bomani. 

Fenomena resistensi mikroba ini diakibatkan penggunaan antibiotik berlebih saat penanganan pasien. 

"Jenis-jenis kuman ini sangat ditakuti di seluruh dunia. Karena semakin tahun, kuman ini mengalami resistensi (kebal). Ditakutkan menjadi kuman yang dapat membahayakan pasien karena belum ada penemuan antibiotiknya," jelasnya kepada awak media usai kegiatan field visiting.

Meski begitu, hingga sekarang para ahli masih bisa mengendalikan tingkat resistensi mikroba.

Namun dikhawatirkan, fenomena resistensi ini tidak bisa ditebak karena terjadi secara periodik.

"Secara angka kasus sih, levelnya masih di bawah parameter sekitar 20-40 persen dari biakan yang diteliti, bukan dari pasien. Sementara masih aman," paparnya.

Ia menambahkan, resistensi antimikroba ini menjadi fenomena tak terhindarkan. Pasalnya, kuman juga mengalami perkembangan, berevolusi dan beradaptasi sesuai kondisi alam dan lingkungan ia tinggal.

"Maka itu menjadi tugas rumah sakit khususnya RSUP Sanglah dalam mengendalikan pemakaian antibiotik. Selain itu, untuk penunjang kita juga didukung lab mikrobiologi untuk memeriksa jenis kuman resisten," terangnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved