Ingin Perubahan, Perempuan Perlu Strategi Perjuangan

Kekuatan dan ketangguhan kaum perempuan biasanya baru akan terlihat dalam situasi krisis

Ingin Perubahan, Perempuan Perlu Strategi Perjuangan
Istimewa/I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, MA
I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, MA saat berbagi pengalaman dengan mahasiswa IKM Universitas Dyana Pura, akhir pekan lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kekuatan dan ketangguhan kaum perempuan biasanya baru akan terlihat dalam situasi krisis.

Dalam kondisi normal, seringkali tak memiliki strategi perjuangan untuk merubah keadaan.

"Itu sebabnya, peran kita seringkali kurang terlihat dan hanya mengikuti pilihan yang diberikan pihak lain saja," ujar I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, MA, saat berbagi pengalaman dengan mahasiswa IKM Universitas Dyana Pura, akhir pekan lalu.

Gung Tri menyebut, dirinya memiliki banyak pengalaman saat menjadi aktivis mahasiswa di Universitas Airlangga Surabaya, kemudian menjadi pendamping masyarakat di daerah konflik dan bencana, serta menjadi politisi di PDI Perjuangan.

"Tokoh perempuan lah yang bisa mencari jalan keluar ketika kaum laki-laki terjepit oleh keadaan," ujarnya.

Ia mencontohkan, suatu kali di Timor Leste saat masih menjadi bagian dari Indonesia, ia bertemu dengan seorang perempuan yang membangun sendiri sebuah sekolah untuk anak-anak di sana.

Padahal saat itu konflik sedang terjadi dan kaum pria tidak berani melakukan apa-apa karena terus merasa dicurigai.

Uniknya, tokoh itu bahkan yang mendekati aparat keamanan untuk meminta mereka menjadi guru di sekolah itu.

Hal yang sama dia temui ketika konflik agama di Ambon, dimana justru kaum perempuan yang mampu dan berani menyuarakan jalan perdamaian.

Dari situ kemudian dirintis langkah konkret untuk menyatukan warga melalui usaha bersama menyediakan kebutuhan rumah tangga.

Gung Tri menegaskan perlunya keberanian untuk melepaskan diri dari anggapan bahwa perempuan itu lemah dan kurang berdaya.

"Baru setelah itu bisa dipikirkan bagaimana cara meringankan beban-beban yang dianggap memberatkan perempuan," ujarnya menjawab pertanyaan mahasiswa.

Mereka juga harus memiliki keberanian bernegoisasi dengan kaum pria dengan berbagai cara.

"Kita juga wajib meningkatkan kualitas diri dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama sehingga medan perjuangan sesulit apapun akan terasa menjadi lebih ringan," tegasnya. (*)

Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved