Berita Pemkot Denpasar

Rai Mantra Dorong Tenaga Pendidik Tingkatkan Integritas dan Karakter di Era Revolusi Industri 4.0

Pemkot Denpasar bersama PGRI Kota Denpasar menggelar Seminar Guru Berintegritas dan Berkarakter dalam Menyambut Era Revolusi Industri 4.0

Rai Mantra Dorong Tenaga Pendidik Tingkatkan Integritas dan Karakter di Era Revolusi Industri 4.0
Humas Pemkot Denpasar
Walikota Denpasar, IB. Dharmawijaya Mantra saat membuka Seminar Guru Berintegritas dan Berkarakter dalam Menyambut Era Revolusi Industri 4.0, yang juga dirangkaikan dengan HUT PGRI yang ke 73 tahun, Jumat (24/11/2018) di ruang Mahottama Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang, Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM - Dalam rangka menyambut era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan revolusi digital, peran guru tidak bisa diksampingkan.

Untuk itu diperlukan guru yang mampu mengikuti perubahan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat ini.

Karenanya, Pemerintah Kota Denpasar bersama PGRI Kota Denpasar menggelar "Seminar Guru Berintegritas dan Berkarakter dalam Menyambut Era Revolusi Industri 4.0", yang juga dirangkaikan dengan HUT PGRI yang ke 73 tahun, Jumat (24/11/2018) di ruang Mahottama Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang.

Seminar dibuka langsung Walikota Denpasar, IB Dharmawijaya Mantra didampingi Asisten Administrasi Umum Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya dan Ketua Pengurus PGRI Kota Denpasar I Wayan Winata, yang di tandai dengan pemukulan gong.

Para pendidik ini merupakan pembawa inspirasi perubahan, peranan pendidik sangat vital didalam ekosistem pendidikan.

“Yang mana dalam ekosistem itu harus ada revitalisasi dalam artian apa yang sudah tidak update harus di-update dan dihidupkan lagi, ini bukan dalam artian baru atau lama, bukan dalam artian tradisi atau modern melainkan dalam artian yang sesuai dan setelah sesuai harus dikuatkan serta dikembangkan,” demikian disampaikan Walikota Rai Mantra saat membuka seminar.

Era Revolusi Industri 4.0 ini jika diterjemahkan merupakan sebuah era evolusi global, jadi industry yang pertama yakni 1.0 itu industri yang bersifat agraris dengan teknologi yang digunakan untuk mengolah bahan-bahan pertanian atau industri yang masih bersifat natural dengan menggunakan tenaga air dan uap yang sederhana.

Dalam konteks pendidikan, pada masa industr1 1.0 masih diperlukan tenaga pendidik yang besar dengan sistem kerja konvensional.

Selanjutnya era 2.0 masuk ke industri massif atau industri otomotif dengan artiaan sudah masuk industri pabrik, yang dalam dunia pendidikan tetap diperlukan tenaga yang banyak dengan biaya yang murah hingga tidak bisa untuk melakukan kreativitas dan bisa untuk bekerja saja.

Kemudian masuk ke industri 3.0 itu era komunikasi yang pada masa itu sudah ada handpone, komputerisasi yang sudah mulai dengan sistem automatis dan kemudahan, maka timbullah sebuah kreativitas pada masa itu dengan volume yang masih kecil.

Dan, sekarang masuk pada era 4.0 yang merupakan era digitalisasi yang tidak hanya berpengaruh ke dunia pendidikan saja, melainkan berpengaruh juga pada managerial seperti dipemerintahan sudah diminta E-Government dan smart city dengan sarana digital yang memudahkan.

“Tapi harus diingat 3.0 dan 4.0 itu telah memiliki budaya global (global culture), maka untuk para pendidik untuk selalu bisa membentengi anak-anak di zaman digital ini agar tidak terjadi penyalahgunaan atau penyimpangan digital. Maka dengan demikian diperlukan kesepakatan dan tindakan mengawal bersama-sama sehingga pembentukan karakter peserta didik tidak menyimpang dari karakter dan budaya kita,” tegas Rai Mantra.

Sementara Ketua Pengurus PGRI Kota Denpasar I Wayan Winata menjelaskan bahwa beragam kegiatan dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT ke-73 PGR I dan HGN 2018. Yakni lomba mewarnai dan menggamabar, workshop, aksi bersih lingkungan, seminar, tabur bunga dan puncak perayaan Hut ke-73 PGRI dan HGN 2018. (*)

Editor: Widyartha Suryawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved