Tradisi Perang Papah dan Nyepi Adat di Desa Pengotan Diiringi Musik Duwe Kenyung

Tradisi unik ini diikuti oleh seluruh krama dari delapan banjar di Desa Pakraman Pengotan bertempat di Pura Bale Agung

Tradisi Perang Papah dan Nyepi Adat di Desa Pengotan Diiringi Musik Duwe Kenyung
Istimewa
PERANG PAPAH - Sejumlah krama saat melakukan perang papah biu di Desa Pakraman Pengotan, Kabupaten Bangli, Kamis (22/11/2018) malam. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Setiap satu tahun sekali tepatnya Purnama Kenam, terdapat sabuah tradisi unik di Desa Pengotan, Bangli.

Tradisi ini diikuti oleh seluruh krama dari delapan banjar di Desa Pakraman Pengotan bertempat di Pura Bale Agung.

Tradisi unik ini disebut baris perang papah.

Ini merupakan salah satu dari rangkaian upacara Piodalan Ratu Pingit utawi Wali Betara Kerta yang dilaksanakan pada Purnama Kenam, Kamis (22/11/2018).

Baca: Sistem Rangking SKD Jadi Langkah Mundur, Akademisi Unud Kritisi Inkonsistensi Perekrutan CPNS 2018

Baca: Apa Hubungan Manfaat Makan Ikan dan Libido Seks? Ini Penjelasan Psikolog Kesehatan

Sesuai tradisi warisan leluhur, pelaksanaan upacara dimulai setelah matahari terbenam.

Diawali dengan nedunang Ida Betara Pingit yang berstana di Jero Anyar.

Setelah medal dan berstana di Ulun Bale Ageng, dimulailah segala ritual yang dipimpin oleh peduluan yang disebut Jero Mucuk.

“Tradisi baris perang papah ini benar-benar disakralkan oleh Desa Pakraman Pengotan,” ungkap Bendesa Pengotan, Jero Kopok, Jumat (23/11/2018).

Pada baris perang papah, alat yang digunakan yakni papah biu (pelepah pisang).

Tradisi baris perang papah tentunya juga diiringi musik, hanya saja tidak menggunakan gamelan layaknya tradisi pada umumnya.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved