Gadget Ikut Picu Peningkatan ODGJ, Bali Peringkat Pertama Kasus Gangguan Jiwa Tertinggi di Indonesia

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Bali, angka kasus meningkat di tahun 2018 hingga 11 per mil

Gadget Ikut Picu Peningkatan ODGJ, Bali Peringkat Pertama Kasus Gangguan Jiwa Tertinggi di Indonesia
Istimewa
(Ilustrasi) Proses pengibaran bendera oleh penderita Skizofrenia di Rumah Berdaya, Bali, Jumat, (17/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Angka penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Bali mengalami peningkatan.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Bali, angka kasus meningkat di tahun 2018 hingga 11 per mil, sedangkan tahun 2013 hanya 2,3 per mil. 

Pemicu peningkatan ini beragam, dari masalah ekonomi hingga masalah kecanduan gadget yang memicu pengguna menjadi anti sosial.

Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Gusti Komang Sridana menuturkan, peningkatan kasus gangguan jiwa di zaman globalisasi ini banyak dilatarbelakangi faktor kecanduan teknologi, terutama gadget (gawai).

Meningkatnya penggunaan gawai dewasa ini, kata dia, turut mengurangi hubungan sosial.

"Semua pada sibuk dengan gadget masing-masing, jarang ada peristiwa komunikasi intens antar kita. Kepedulian sosial kita semakin terkikis. Pada remaja, ekspresi mereka menjadi tidak tersalurkan. Meski, kami belum ada data mengukur faktor ini, namun inilah faktor paling berpengaruh pada peningkatan ini," ungkapnya dalam diskusi kesehatan jiwa yang digelar Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali di Kubu Kopi Sabtu (24/11/2018).

Ekspresi yang tak tersalurkan, kemudian menyempitnya komunikasi lantaran lebih sibuk pada gadget masing-masing inilah yang ikut memicu kasus ODGJ makin tinggi.

Anggota Komisi VII DPR RI, I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, yang turut hadir dalam diskusi itu mengungkapkan persoalan konteks ekonomi menjadi faktor penyebab utama dalam kasus kesehatan jiwa ini. 

Menurut dia, iklim perekonomian Indonesia sekarang ini negara belum hadir, berfokus pada kegiatan ekonomi makro, sehingga ekonomi mikro tidak diberikan atensi.

Ini kemudian memacu keguncangan jiwa masyarakat, khususnya remaja yang terbebani kegiatan ekonomi makro. 

Halaman
123
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved