Serba Serbi

Bagaimana Cara Merayakan Tumpek Wariga di Tengah Perkotaan?

Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag merupakan hari raya untuk penghormatan kepada Sang Hyang Sangkara.

Bagaimana Cara Merayakan Tumpek Wariga di Tengah Perkotaan?
Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi tanaman berbuah 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag merupakan hari raya untuk penghormatan kepada Sang Hyang Sangkara.

Dalam momen ini masyarakat Hindu Bali memuliakan keberadaan pohon atas segala limpahan yang diberikan seperti oksigen hingga buah.

Tumpek Wariga jatuh setiap Sabtu (Saniscara) Kliwon Wariga atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan yang saat ini akan dirayakan tiga hari lagi tepatnya Sabtu (1/12/2018).

Namun apakah masyarakat perkotaan yang tidak punya tanaman bisa ikut melakukan prosesi Tumpek Wariga ini? Lalu apa yang mesti dilakukan?

Menurut Kelihan Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita Tumpek Wariga yang disebut juga dengan istilah Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, dan Tumpek Bubuh merupakan hari suci untuk memuja Sang Hyang Sangkara sebagai dewa kesuburan.

"Dahulu, biasanya tumbuhan yang diupacarai adalah tumbuh-tumbuhan seperti kelapa dan tumbuhan buah-buahan. Tumbuh-tumbuhan ini biasanya tUmbuh di pekarangan atau tebe (areal belakang rumah) masyarakat," kata Wahyudita.

Ia juga menambahkan mantra sederhana yang biasa diucapkan yaitu "Kaki - kaki i dadong dije? Dadong ye jumah gelem, gelem nged ngeed ngeed."

Akan tetapi kini seiring dengan laju perkembangan jaman, khususnya di Kota Denpasar, menurutnya masyarakat tidak lagi memiliki tegalan (teba) sehingga sangat jarang dijumpai pohon-pohonan berbuah yang diupacarai pada saat tumpek bubuh.

"Dampaknya tumpek bubuh secara perlahan mulai tidak dipahami maknanya oleh generasi kekinian," imbuhnya.

Untuk memberikan solusi kepada permasalahan tersebut, Penggak Men Mersi dalam perayaan Tumpek Bubuh yang jatuh pada hari Sabtu (1/12/2018), akan menggelar pameran tabulapot (tanaman buah dalam pot).

Dengan tabulapot ini menurutnya masyarakat bisa memanfaatkan pekarangannya yang tidak terlalu luas untuk menanam tanaman buah.

Dengan demikian masyarakat juga bisa melaksanakan perayaan Tumpek Wariga di perkotaan walaupun tidak memiliki tegalan.

"Tujuan pameran ini adalah untuk kembali memaknai tumpek bubuh. Selain itu juga bertujuan untuk mengenalkan tanaman-tanaman buah langka yang kini jarang ada di perkotaan. Lebih daripada itu, dengan kegiatan pameran ini diharapkan dapat memberi sumbangsih solusi dan edukasi terhadap cara berkebun buah di daerah perkotaan khususnya di kota Denpasar," imbuhnya.

Dengan tabulapot diharapkan masyarakat tidak lagi khawatir untuk tidak bisa menanam buah di pekarangan yang sempit. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved