Luh Putu Nilawati Sebut di Bali Banyak Terjadi Pernikahan Anak Yang Juga Termasuk Kekerasan Seksual

Di Bali, ternyata adat juga ikut melanggengkan kekerasan terhadap perempuan terutama dalam kekerasan seksual.

Luh Putu Nilawati Sebut di Bali Banyak Terjadi Pernikahan Anak Yang Juga Termasuk Kekerasan Seksual
Tribun Bali / I Wayan Sui Suadnyana
Masyarakat membubuhkan tanda tangan di atas kain berwarna putih sebagai dukungan penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Wantilan Gedung DPRD Bali pada Jum'at, (30/11/2018) dalam peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kekerasan terhadap perempuan kini telah menjadi isu internasional.

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mewajibkan setiap negara untuk melakukan pelaporan setiap tahunnya terkait upaya yang dilaksanakan dalam menangani masalah ini.

Di Bali, ternyata adat juga ikut melanggengkan kekerasan terhadap perempuan terutama dalam kekerasan seksual.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik) Bali, Luh Putu Nilawati menjelaskan hal tersebut saat ditemui Tribun Bali di Wantilan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali pada Jum'at, (30/11/2018).

"Faktor adat bukan menyebabkan, tapi adat kita menganggap apabila ada bayi yang lahir di luar pernikahan adalah sebel atau cuntaka. Adat bukan penyebab, tapi ikut melanggengkan kekerasan seksual," jelasnya.

Menurutnya, hal ini disebabkan karena ketika terjadi kehamilan di luar pernikahan maka harus disahkan melalui perkawinan.

Pernikahan terhadap anak ini juga termasuk kekerasan seksual dan hal ini banyak sekali terjadi di Bali.

"Kekerasan seksual di sekolah-sekolah juga banyak terjadi yang dilakukan oleh seorang guru," jelasnya lagi.

Saat ditanya mengenai data terhadap kekerasan seksual terhadap perempuan terutama anak-anak ini, Nila menyebutkan bahwa datanya ada di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di masing-masing daerah. 

Meski tidak menyebutkan data secara pasti, tapi Nila mengklaim bahwa Kabupaten Bangli menjadi daerah di Bali yang paling banyak terjadi kekerasan seksual.

Hal ini menurutnya didorong juga dengan minimnya respon pemerintah yang disebutnya tidak mengalokasikan dana untuk pemberdayaan perempuan dan pemenuhan korban-korban perempuan atau hak-hak perempuan.

"Yang jelas Bangli paling banyak, pernikahan anak banyak, kekerasan seksual banyak, poligami juga tinggi terutama di daerah Kintamani," pungkas Nila. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved