‘Sing Beling Sing Nganten’, Apakah Hamil Diluar Nikah Juga Termasuk Kekerasan Seksual?

Namun apakah fenomena ini termasuk salah satu kekerasan seksual terhadap perempuan?

‘Sing Beling Sing Nganten’, Apakah Hamil Diluar Nikah Juga Termasuk Kekerasan Seksual?
boldsky.com
Ilustrasi hamil 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Fenomena hamil diluar nikah atau yang lebih dikenal masyarakat Bali "Sing Beling Sing Nganten" kini sudah dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi.

Namun apakah fenomena ini termasuk salah satu kekerasan seksual terhadap perempuan?                                                                                                                                                                                                                                                  Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik) Bali, Ni Luh Putu Nilawati menjelaskan, fenomena ini bisa dianggap sebagai kekerasan seksual apabila wanita yang hamil tersebut berada di bawah umur 18 tahun.

"Kalau umur wanita di bawah umur 18 tahun, iya termasuk kekerasan seksual," kata Nila saat ditemui Tribun Bali di Wantilan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali pada Jum'at, (30/11/2018).

Meski wanita yang berada dibawah umur 18 tahun tersebut melakukannya berdasarkan kemauan atau karena pacaran tetap bisa disebut kekerasan seksual.

Hal itu dikarenakan anak yang umurnya dibawah usia 18 tahun belum bisa mengambil suatu keputusan yang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri sehingga yang dewasa tetap dianggap bersalah.

"Itu kalau di undang-undang perlindungan anak dan undang-undang kekerasan seksual," kata dia menambahkan.

Namun yang menjadi permasalahan saat ini adalah belum diundangkannya undang-undang tersebut sehingga permasalah tersebut tidak bisa diproses.

Meski belum adanya payung hukum mengenai hal tersebut, Nila menjaskan bahwa bisa dicegah dengan pemberdayaan masyarakat melalui pemerintah daerah agar mengalokasikan dana untuk penyuluhan.

Jika tidak dengan dana pemerintah kabupaten/kota, kini pemberdayaan masyarakat bisa dilaksanakan dengan adanya dana desa.

"Paling tidak kepala desa-kepala desa membuat program tentang pemberdayaan perempuan dan anak," imbuhnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved