Apakah Sastra Bali Modern Tetap Hidup Karena Hadiah Sastera Rancage?

Sastra Bali modern lahir pada zaman kolonial Belanda tahun 1910an yang ditandai dengan terbitnya cerita pendek dalam buku pelajaran sekolah

Apakah Sastra Bali Modern Tetap Hidup Karena Hadiah Sastera Rancage?
Tribun Bali/I Putu Supartika
Dialog Sastra #62 yang bertajuk Sastra Bali Modern dan Rancage di Bentara Budaya Bali, Jumat (30/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Jumat (30/11/2018) kemarin, bertempat di Bentara Budaya Bali dilaksanakan Dialog Sastra #62 yang bertajuk Sastra Bali Modern dan Rancage.

Dalam kesempatan tersebut sedianya hadir tiga narasumber yaitu Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, I Made Sudiana, dan I Gede Agus Darma Putra, akan tetapi Prof.

Sayangny, Prof Darma Putra tidak bisa hadir.

Namun dalam makalahnya, Prof Darma Putra menguraikan tentang perkembangan sastra Bali modern dari kelahirannya hingga kondisinya saat ini.

Sastra Bali modern ini lahir pada zaman kolonial Belanda tahun 1910an yang ditandai dengan terbitnya cerita pendek dalam buku pelajaran sekolah karya I Made Pasek dan Mas Nitisastro.

"Akan tetapi, dalam rentang kehidupan sekitar satu abad, hampir dalam tiga perempat abad, kehidupan sastra Bali modern itu dalam kondisi sayup-sayup sampai alias memprihatinkan," tulis Prof Darma Putra dalam makalahnya.

Baru tahun 2000an lah mulai menggeliat dengan diikutkan dalam pemberian hadiah Sastera Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung.

Sejak saat itu jumlah buku sastra Bali modern yang terbit setiap tahun semakin membanggakan, rata-rata 8 sampai 10 judul.

"Kehidupan sastra Bali modern sesudah mendapat rangsangan Hadiah Rancage semakin ramai," tulisnya.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved