Serba Serbi

Bayi yang Digugurkan Digunakan Sebagai Sarana Bebai, Lakukan Ini untuk Menangkalnya

"Dalam Usadha Bebai, bebahi berasal dari bayi hasil pengguguran kandungan. Setelah ditanam kemudian diambil, dirawat sedemikian rupa,"

Bayi yang Digugurkan Digunakan Sebagai Sarana Bebai, Lakukan Ini untuk Menangkalnya
google.com
Ilustrasi aborsi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut Dosen Sastra Bali Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa sebagaimana yang ia baca dalam lontar Usadha Bebai, bebai tersebut dibuat dengan sarana bayi yang digugurkan.

"Dalam Usadha Bebai, bebahi berasal dari bayi hasil pengguguran kandungan. Setelah ditanam kemudian diambil, dirawat sedemikian rupa," kata Guna Yasa, Minggu (2/12/2018).

Bayi tersebut diupacarai sebagaimana bayi biasanya yang hidup.

Dilakukan upacara 12 hari, upacara tiga bulanan, otonan sehingga energi yang ada di dalam bayi tersebut bisa menganggap orang yang memeliharanya itu sebagai orang tuanya.

"Karena ada rumus tertentu yang bisa nenarik jiwa dari seseorang melalui sebuah media sehingga datang lagi. Oleh karena itu bayi tersebut akan tumbuh dan menghamba pada yang memelihara," katanya.

Nantinya, bebai ini perlu darah untuk makanan, kalau tidak darah manusia, bisa darah ayah.

"Inilah nantinya yang dikirim sehingga tumbuh dan dikirim masuk ke tubuh seseorang dan ini juga bisa diperjualbelikan," imbuhnya.

Orang yang dimasuki bebai ini disebut dengan bebainan.

Guna Yasa menambahkan, dominan anak bebainan itu adalah wanita.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved