Disbud Badung Dukung Perarem Larangan Jual Beli Daging Anjing

Disbud Kabupaten Badung sepakat terkait sikap Desa Adat Kerobokan yang telah meminta warganya untuk tidak memperjualbelikan atau mengkonsumsi daging

Disbud Badung Dukung Perarem Larangan Jual Beli Daging Anjing
Istimewa
Tiga anjing Pino, Pina dan Pine milik Harry Kumara yang mati karena keracunan. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung sepakat terkait sikap Desa Adat Kerobokan  yang telah meminta warganya untuk tidak memperjualbelikan atau mengkonsumsi daging anjing.

Bahkan, Disbud meminta desa adat yang ada di Kabupaten Badung meniru dan melaksanakan hal tersebut.

Kepala Disbud Badung IB Anom Bhasma mengatakan langkah yang diambil oleh Desa Adat Kerobokan sangat positif.

Ia mengatakan sudah pernah menyosialisasikan hal tersebut kepada beberapa bendesa yang ada di Kabupatn Badung.

“Kami sangat sepakat terkait hal itu (perarem, red). Sebenarnya sejak awal memang kami di Dinas Kebudayaan mendorong agar desa adat ikut membuatkan aturan terkait peredaran daging anjing ini. Apalagi sudah ada aturan dari Provinsi Bali, jika daging anjing bukan bahan pangan,” ujarnya, Sabtu (1/12/2018).

Desa Adat di Badung, lanjut Anom Bhasma, bisa memasukkan aturan terkait hal ini di perarem, sehingga bisa ditaati oleh masyarakat.

“Dengan perarem lebih kuat dia, karena di sana ada sanksi secara adat juga,” tegasnya.

Menurut birokrat asal Desa Taman, Kecamatan Abiansemal itu, awal tahun 2019 mendatang pihaknya akan menyinggung masalah ini dalam sebuah pertemuan dengan para bendesa adat se-Kabupaten Badung.

“Sesungguhnya banyak yang akan dibahas di situ. Soal kebijakan bupati mengenai desa adat, masalah sampah, termasuk soal daging anjing yang kerap diperjualbelikan oleh masyarakat,” kata Anom Bhasma.

Lebih lanjut ia mengatakan, semestinya aturan harus dibuat dalam bentuk perarem di desa adat.

Sehingga di wilayah desa tersebut tidak ada yang menjual atau mengkonsumsinya.

Termasuk juga masyarakat pendatang akan taat pada aturan jika, peraturan itu sudah dibuat dalam bentuk perarem.

“Dalam pertemuan itu kami akan dorong desa adat membuat perarem soal daging anjing. Apa yang dilakukan Desa Adat Kerobokan, kami sangat apresiasi. Mudah-mudahan desa adat lainnya bisa mengikutinya,” harapnya. (*)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved