Atasi Radikalisme, Mahasiswa Jangan Terjebak Jargon

Radikalisme, kata Gung Tri juga harus dipahami mahasiswa sebagai gejala yang terjadi dalam masyarakat luas

Atasi Radikalisme, Mahasiswa Jangan Terjebak Jargon
Istimewa
Seminar Nasional Gelora Kebangsaan yang diadakan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) di Universitas Udayana, Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Para mahasiswa yang berniat untuk mengatasi radikalisme di kalangan kampus tak boleh terjebak pada jargon dan slogan belaka.

Mereka harus bersedia untuk melakukan pendekatan dari hati ke hati dan berinteraksi langsung dengan masalah yang dihadapi.

"Sebab radikalisme sendiri berkembang dengan sentuhan hati. Menyangkut keyakinan paling dalam dari seseorang baru kemudian disebarkan melalui media sosial," kata Anggota Komisi VIII DPR RI, I Gusti Agug Putri Astrid Kartika, Sabtu (1/12/2018).

Ia menyatakan hal itu, dalam Seminar Nasional Gelora Kebangsaan yang diadakan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) di Universitas Udayana, Denpasar, Sabtu (1/12/2018).

Radikalisme tegas dia, tidak bisa diatasi dengan pidato-pidato, upacara maupun pengerahan massa.

Radikalisme, kata politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa Gung Tri ini, juga harus dipahami mahasiswa sebagai gejala yang terjadi dalam masyarakat luas.

Artinya, mahasiswa pun harus mau terjun ke dalam masyarakat sebagai medan perjuangannya.

Ia mengatakan, potensi radikalisme di kalangan terdidik seperti mahasiswa memang cukup besar.

Apalagi bila lapangan kerja justru makin menyempit sehingga pengangguran intelektual makin banyak.

Radikalisme seolah-olah memberi jalan keluar untuk melakukan suatu hal yang berarti bagi hidup mereka.

Halaman
12
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved