Muhammadiyah Bebaskan Warganya Pilih Capres, Tegaskan Netralitas Sesuai Khitah Denpasar 2002

Ketua PW Muhammadiyah Bali, H Aminullah menegaskan, pihaknya tidak akan terlibat dalam kepentingan politik praktis

Muhammadiyah Bebaskan Warganya Pilih Capres, Tegaskan Netralitas Sesuai Khitah Denpasar 2002
Tribun Bali/Ragil Armando
DISKUSI - Suasana Diskusi Ideopolitor (Ideologi, Politik, dan Organisasi) yang digelar oleh PD Muhammadiyah Kota Denpasar di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Bali, Denpasar, Minggu (2/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua PW Muhammadiyah Bali, H Aminullah menegaskan, pihaknya tidak akan terlibat dalam kepentingan politik praktis pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Hal itu disampaikan di sela-sela Diskusi Ideopolitor (Ideologi, Politik, dan Organisasi) yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Denpasar di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Bali, Denpasar, Minggu (2/12/2018).

“(Sikap politik Muhammadiyah) tidak akan dan tidak akan pernah berubah. Sejak zaman Pak Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) berdiri pada kepribadian,” ungkapnya.

Menurut dia, prinsip dan khitah inilah yang akan dipegang teguh oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah akan mengambil jarak dari kepentingan politik di negeri ini.

Pihaknya pun membebaskan anggota dan simpatisannya untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Pilihan warga Muhammadiyah, katanya, harus sesuai dengan hati nurani.

"Pokoknya Muhammadiyah tetap pada khitahnya, bahwa tidak ada kecenderungan pada partai politik tertentu, capres dan cawapres tertentu," jelasnya.

Sekretaris PD Muhammadiyah Kota Denpasar, Tatang Wisnu Wardhana mengatakan, netralitas ormas Muhammadiyah sudah tertuang dalam Khitah Muhammadiyah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Hasil Tanwir 2002, atau yang dinamakan Khitah Denpasar.

"Itu kan sudah jelas di Khitah hasil Tanwir 2002 di Denpasar, Muhammadiyah berpandangan bahwa berkiprah dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu perwujudan misi dan fungsi melaksanakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak zaman pergerakan hingga masa awal dan setelah kemerdekaan Indonesia," ucap dia.

Dia mengatakan, Muhammadiyah akan menjadi rumah besar bagi semua warga persyarikatan yang tersebar ke berbagai partai politik.

“Muhammadiyah tegas dan menegaskan akan tetap netral dan menjadikan Muhammadiyah sebagai rumah besar bagi semua anggota yang berbeda-beda partai dan afiliasi politiknya,” katanya.

Dia menjelaskan, diskusi ini merupakan bagian dari pendidikan politik kepada warga Muhammadiyah Denpasar dalam menyambut tahun politik 2019.

"Ini bagian dari pendidikan politik kepada masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah. Kami meminta masyarakat menggunakan hak pilih pada Pemilu 2019 dan tidak golput," ujarnya. (*)

Penulis: Ragil Armando
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved