Menjadi Kader JKN Adalah Profesi Yang Membanggakan

Inilah yang menjadi motivasinya untuk ikut serta berkontribusi menyukseskan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Menjadi Kader JKN Adalah Profesi Yang Membanggakan
BPJS SINGARAJA
Gede Yasa Suriawan (36) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA -  Menjadi Kader JKN adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Gede Yasa Suriawan (36).

Ia penuh semangat untuk menjadi Kader JKN pasalnya ia melihat banyak masyarakat yang belum mengetahui betul akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan.

Hal inilah yang menjadi motivasinya untuk ikut serta berkontribusi menyukseskan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Kader JKN adalah orang atau warga masyarakat yang bekerjasama sebagai mitra BPJS Kesehatan berdasarkan hubungan kemitraan yang menjalankan sebagian fungsi BPJS Kesehatan dalam suatu wilayah tertentu yang memiliki kapasitas sesuai dengan kriteria tertentu dan direkrut oleh BPJS Kesehatan.

Dimana fungsi Kader JKN adalah sebagai pengingat dan pengumpul iuran, fungsi pemasaran sosial, fungsi kepesertaan, fungsi pemberi informasi dan penerima keluhan.

Yasa, begitu panggilan akrabnya adalah salah satu Kader JKN di Kabupaten Buleleng yang termasuk wilayah kerja BPJS Keshatan Cabang Singaraja.

Yasa menjalankan tugasnya sebagai kader JKN yang sehari-hari melakukan kunjungan dari pagi hingga sore hari.

Yasa mengaku berbagai macam tantangan yang dihadapi di lapangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja menjadi kader JKN yang penuh semangat dalam melayani masyarakat.

“Jujur saya bangga menjadi Kader JKN, karena profesi ini sangat mulia. Saya bisa membantu masyarakat dalam memberikan edukasi terkait program JKN-KIS dengan melayani langsung masyarakat untuk datang ke rumahnya. Saya melakukan berbagai cara agar informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat binaan saya” terang  pria asal Buleleng ini, Kamis (4/12/2018)

Masyarakat yang menjadi peserta binaan Kader JKN adalah masyarakat desa yang telah menjadi peserta JKN-KIS dengan kriteria menunggak iuran dan masyarakat yang ingin mendaftar sebagai peserta JK-KIS dari segmen peserta bukan penerima upah (PBPU).

“Yang saya kunjungi kunjungi adalah masyarakat yang telah menjadi peserta JKN-KIS namun menunggak iuran. Saya yakin dapat mengedukasi peserta agar mereka sadar akan kewajibannya untuk rutin membayar iuran setiap bulan. Saya juga mengunjungi masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS agar mendaftarkan diri beserta anggota keluarganya sebagai peserta JKN-KIS dan tentunya dengan memberikan edukasi yang tepat agar nantinya setelah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS tetap rutin dalam memenuhi kewajibannya membayar iuran. Saya juga berusaha meyakinkan masyarakat bahwa menjadi peserta JKN-KIS sangatlah bermanfaat, ”  tuturnya

Ia juga menceritakan kisah suka duka menjalani profesi sebagai seorang Kader JKN Terkadang ia disambut tidak baik oleh peserta, namun hal itutidak menyurutkan niatnya untuk tetap meyakinkan peserta.

“Justru saya semakin bersemangat untuk membina peserta tersebut. Ketika peserta tersebut sadar bahwa program JKN-KIS ini sangatlah bermanfaat dan siap untuk membayar iuran yang ditunggaknya, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan. Saya sungguh bangga menjadi Kader JKN, karena secara tidak langsung saya telah ikut serta berkontribusi membantu masyarakat,” jelas Yasa

Dengan adanya Kader JKN, diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta JKN-KIS mengenai program JKN-KIS seperti membayar iuran tepat waktu, pengetahuan tentang denda pelayanan yang diakibatkan dari keterlambatan membayar iuran, termasuk juga informasi terkait kanal-kanal pembayaran iuran, serta informasi terkait program JKN-KIS agar dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved