Bali Berpotensi Diguncang Gempa 7,4 SR, ACT Sebut Daerah di Bali Selatan Rawan Terjadi Likuifaksi

Bali Berpotensi Diguncang Gempa 7,4 SR, ACT Sebut Daerah di Bali Selatan Rawan Terjadi Likuifaksi

Bali Berpotensi Diguncang Gempa 7,4 SR, ACT Sebut Daerah di Bali Selatan Rawan Terjadi Likuifaksi
Digital Globe | Dongen Geologi [GEOLOGI.CO.ID]
Ilustrasi Likuifaksi. 

Getaran berlangsung hingga dua puluh menit lamanya.

Anehnya, seolah tak ada manusia yang menyadari keberadaan gelombang tersebut.

Berbagai spekulasi pun berkembang.

Mulai dari meteor jatuh, letusan gunung berapi bawah laut, bahkan hingga 'monster laut purba' yang muncul dari kedalaman.

Goran Ekstrom, ahli kegempaan dari Columbia University mengatakan dirinya belum pernah menjumpai fenomena seperti ini.

"Bukan tidak mungkin, pada akhirnya kita menemukan penyebab yang langka," kata dia.

Sejarah kegempaan di Pulau Mayotte

Berdasarkan data yang dikumpulkan para ilmuwan, gempa misterius yang terjadi masih berkaitan dengan gelombang seismik yang mengguncang Mayotte sejak Mei yang lalu.

Sebagian besar merupakan gempa kecil atau lindu.

Skala terbesarnya mencapai magnitudo 5,8 pada 15 Mei 2018.

Namun, frekuensinya terus menurun hingga saat gempa misterius terjadi 11 November 2018.

Lembaga survey dari Perancis, The French Geological Survey (BRGM) sedang melakukan penelitian pada gempa tersebut.

Kemungkinannya, ada aktivitas vulkanik dari garis pantai Pulau Mayotte.

Pulau itu terbentuk dari gunung berapi, namun gunung tersebut terakhir meletus lebih dari empat ribu tahun yang lalu.

Analisis BRGM menunjukkan bahwa lebih besar kemungkinan ada pergerakan magma di lepas pantai, di bawah kedalaman laut.

Nicolas Taillefer, Kepala Unit Seismik dan Vulkanik BRGM mengungkapkan bahwa lokasi terjadinya gempa misterius berada di tepian peta geologi yang mereka punya.

"Ada banyak hal yang tidak kami pahami," ujar Nicolas.

Data dari Institut National de L'information Geographique et Forestiere mengatakan bahwa Pulau Mayotte telah bergeser sejauh 6 cm ke timur dan 3 cm ke selatan.

Perkiraan selanjutnya, magma sebanyak 0,3 kilometer kubik sedang berjalan di bawah permukaan laut dekat Mayotte.

Dikutip dari Kompas.com, Menurut analisis, pergerakan itu disebabkan oleh pengosongan waduk magma di dekatnya.

Meski begitu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memverifikasi hal ini.

"Oleh karena itu, pengamatan ini mendukung hipotesis kombinasi tektonik dan efek vulkanik yang menjelaskan fenomena geologis yang melibatkan urutan seismik dan fenomena vulkanik," jelas pihak BRGM.

"Hipotesis ini perlu dikonfirmasi oleh penelitian ilmiah di masa depan," tegas mereka.(Tribun Bali/Grid.ID)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved