Citizen Journalism

Unik, Hari Raya Galungan Tanpa Penjor di Desa Busungbiu, Ternyata Ada Keyakinan Ini

Bukannya tidak memasang penjor, tetapi masyarakat Desa Busungbiu mempercayai bahwa Desa Busungbiu memiliki penjor yang sakral.

Unik, Hari Raya Galungan Tanpa Penjor di Desa Busungbiu, Ternyata Ada Keyakinan Ini
FB Pemerintah Desa Busungbiu
Upacara piodalan di Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, Singaraja pada November tahun 2016 lalu. 

Penulis: Putu Agus Ria Partawan, Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi Undiksha

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Galungan'>Hari Raya Galungan tidak bisa dipisahkan dari penjor.

Penjor merupakan simbol gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Akan tetapi ada hal unik di salah satu desa Bali Utara, tepatnya di Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Tradisi yang masih dipegang erat sampai saat ini , yaitu warga desa yang tidak memasang penjor pada saat Galungan'>Hari Raya Galungan.

Kenapa Desa Busungbiu tidak memasang penjor saat Galungan'>Hari Raya Galungan?

Bukannya tidak memasang penjor, tetapi masyarakat Desa Busungbiu mempercayai bahwa Desa Busungbiu memiliki penjor yang sakral.

Masyarakat Desa Busungbiu mempercayai bahwa di Desa Busungbiu terdapat empat penjor yang sakral dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang suci saja, diceritakan bahwa ke empat penjor ini memiliki sampian emas.

Empat penjor yang ada di Desa Busungbiu yaitu Penjor Saka Ulu, Penjor Saka Nem, Penjor Saka Pat, daan Penjor Saka Wenang. 

Yang pertama yaitu Penjor Saka Ulu, Saka yang artinya tampul atau katik, dan ulu yaitu delapan jadi dikatakan bahwa penjor ini memiliki delapan katik, penjor ini bertujuan untuk memuja sungai gangga sama seperti katik yang ada di penjor ini sungai gangga juga dialiri oleh delapan anak sungai.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved