Awig-awig Pelihara Anjing di Desa Adat Bengkala, Sanksi Terberat Biayai Pengabenan

Sanksi terberat akan didapatkan bila korban yang tergigit anjing, positif rabies dan meninggal dunia.

Awig-awig Pelihara Anjing di Desa Adat Bengkala, Sanksi Terberat Biayai Pengabenan
Grid.ID
(Ilustrasi) anjing liar 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Wilayah Desa Adat Bengkala Kecamatan Kubutambahan, Buleleng tampak sepi dari anjing liar, Kamis (6/12).

Hal ini terjadi setelah aparat desa adat setempat menerapkan awig-awig bagi masyarakatnya untuk tidak melepasliarkan anjing peliharaannya.

Jika melanggar, maka sanksi yang akan diterima sangat berat.

Sanksi terberat akan didapatkan bila korban yang tergigit anjing, positif rabies dan meninggal dunia.

Maka si pemilik anjing wajib menanggung biaya pengabenan korban hingga benar-benar tuntas.

"Anjing peliharaan juga wajib di vaksin satu tahun sekali, dibuktikan dengan kartu vaksin. Bila ada yang melanggar maka akan dikenakan denda 100 kilogram beras. Atau denda uang seharga beras tersebut," jelas Kelian Sabha Desa Adat  Bengkala, I Gede Suarta, Kamis (6/12).

Dalam awig-awig itu disebutkan, warga Desa Adat Bengkala wajib melapor jika memiliki hewan peliharaan berupa anjing pada aparat desa setempat, serta harus diberikan tanda berupa kalung.

Anjing itu pun tidak boleh diliarkan, apalagi sampai masuk ke pekarangan warga lain dan mengiggit. Warga wajib mengkandangkan atau mengikat anjing-anjing peliharaannya.

Jika ada yang melanggar, maka akan dikenakan denda berupa beras atau dapat diganti dengan uang senilai harga beras tersebut.

Bahkan, apabila ada anjing yang mengigit warga lain, mulai dari bagian leher hingga ke bagian kepala, maka akan dikenakan denda satu ton beras.

Halaman
123
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved