BSSN: Ada 207,9 Juta Serangan Trojan, 36 Juta Aktivitas Malware ke Domain

Perwakilan berbagai institusi keamanan siber Indonesia menghadiri Seminar Diseminasi Ancaman Siber tahun 2018

BSSN: Ada 207,9 Juta Serangan Trojan, 36 Juta Aktivitas Malware ke Domain
Lukmanul Hakim/Kabag Komunikasi Publik, BSSN
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar Seminar Diseminasi Ancaman Siber tahun 2018 dengan tema “Mewujudkan Ruang Siber yang Kondusif dalam Rangka Mendukung Penyelenggaraan Pileg dan Pilpres Tahun 2019”. 

Laporan Wartawan Tribun Bali Busrah Hisam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar Seminar Diseminasi Ancaman Siber tahun 2018 dengan tema “Mewujudkan Ruang Siber yang Kondusif dalam Rangka Mendukung Penyelenggaraan Pileg dan Pilpres Tahun 2019”, di Ballroom Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (12/12/2018), kemarin.

Keynote Speaker Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Agus Suryabakti dan pembicara dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilihan Umum, Bareskrim Polri, PT Telkom, dan praktisi IT terkemuka dihadirkan untuk mendiskusikan trend ancaman siber beserta skema langkah antisipasinya.

Perwakilan berbagai institusi terkait keamanan ranah siber Indonesia dari sektor pemerintah, infrastuktur informasi kritikal nasional, dan ekonomi digital hadir untuk mendapatkan informasi terkini hasil deteksi ancaman siber tahun 2018 dan prediksi ancaman siber tahun 2019, utamanya yang terkait dengan gangguan penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2019.

Kabiro Hukum dan Humas Badan Siber dan Sandi Negara, YB Susilo Wibowo mengungkapkan data dari Januari hingga Oktober 2018, BSSN mendeteksi 207,9 juta serangan trojan dan 36 juta aktivitas malware yang paling banyak menyerang domain ac.id, co.id, dan go.id.

Selain itu, juga terdapat 2.363 pengaduan publik dengan persentase 61persen berupa fraud.

"Potensi ancaman serangan siber terus berkembang semakin pesat, bahkan lebih cepat dari perkembangan teknologi dan kemampuan antisipasinya sehingga berisiko mengakibatkan krisis di segala bidang dengan skala penyebaran massif," kata dia melalui pesan tertulisnya.

Maka dari itu ia menuturkan, dibutuhkan kolaborasi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan keamanan siber nasional untuk membangun kepercayaan, kapabilitas, dan mekanisme koordinasi yang cepat dalam mendeteksi ancaman serangan siber.

"Jika ada kolaborasi akan menguatkan sehingga ancaman dan serangan dapat ditangani dengan baik dan tidak meluas," tuturnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan sekaligus kesadaran, kepedulian, serta kewaspadaan seluruh pihak, terkait keamanan ranah siber agar selalu siap menghadapi ancaman siber, utamanya yang terkait dengan penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2019. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved