Warga di Desa Pedawa Buleleng Kembali Gelar Ritual 'Ngaga' Setelah Mati Suri 47 Tahun

Sejumlah warga pengempon Pura Pucak Sari, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng menggelar ritual Ngaga

Warga di Desa Pedawa Buleleng Kembali Gelar Ritual 'Ngaga' Setelah Mati Suri 47 Tahun
Tribun Bali/Ratu Ayu
Sejumlah warga pengempon Pura Pucak Sari, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng menggelar ritual ngaga atau menanam padi jenis gogo, Rabu (19/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sejumlah warga pengempon Pura Pucak Sari, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng menggelar ritual Ngaga, atau menanam padi jenis gogo, Rabu (19/12/2018). Tradisi yang sempat mati suri selama kurang lebih 47 tahun ini akhirnya kembali dihidupkan.

Sekitar pukul 08.00 wita, saat matahari belum terlalu terik, krama berkumpul di ladang seluas delapan are. Berpakaian adat madia, mereka memulai tradisi dengan mengaturkan sejumlah sesaji. Terucap doa agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.

Sebelum penanaman dilakukan, butiran padi gogo dicampur terlebih dahulu dengan kacang undis, jagung, serta obat pemali yang terdiri dari cincangan kunyit dan daun dadap. Warga meyakini, obat pemali ini berfungsi sebagai penolak hama.

Uniknya, penanaman padi gogo tidak dilakukan di areal sawah yang berair. Padi justru tumbuh di atas tanah kering, yang sebelumnya telah digemburkan.

Kacang undis dan jagung juga ikut ditanam, bersamaan dengan butiran padi, di dalam sebuah lubang kecil yang ditusuk dengan bambu.

"Padi, jagung dan undis di tanam dalam satu lubang. Leluhur kami melakukan itu karena dahulu kala luas lahan yang dimiliki sangat terbatas. Meskipun ditanam di satu tempat, padi, jagung dan undis itu akan tetap tumbuh," kata Made Genong (50), warga Banjar Dinas Insakan.

Sejumlah warga pengempon Pura Pucak Sari, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng saat menggelar ritual Ngaga, atau menanam padi jenis gogo, Rabu (19/12/2018).
Sejumlah warga pengempon Pura Pucak Sari, Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng saat menggelar ritual Ngaga, atau menanam padi jenis gogo, Rabu (19/12/2018). (Tribun Bali/Ratu Ayu)

Padi gogo selama ini digunakan oleh warga utamanya pengempon Pura Pucak Sari, untuk keperluan upacara pitra yadnya, dewa yadnya, ngaben, dan nganteg linggih.

Terakhir, penanaman padi gogo ini dilakukan warga pada tahun 1971 silam. Mereka kemudian mulai meninggalkan padi gogo dan beralih untuk menanam kakao dan cengkih dengan alasan hasil yang didapatkan lebih menjanjikan.

Akibatnya, selama 47 tahun ini, untuk memenuhi sarana upacara, warga membeli padi gogo dari daerah lain yakni di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

"Akhirnya kami berpikir, mau sampai kapan beli padi gogo terus. Lagi pula stoknya sudah mulai menipis. Akhirnya kami sepakat untuk menghidupkan kembali tradisi nenek moyang kami, dengan menanam padi gogo ini," ucap Genong.

Dari pantauan di lokasi, setelah padi gogo ditanam, warga kemudian menggelar tradisi megibung. Nasi beras merah beserta lauk yang sederhana seperti ikan asin dan sayur urab diletakkan di atas daun pisang.

Makanan itu disantap bersama-sama. Setelah tradisi digelar, 20 hari kemudian warga akan kembali ke ladang untuk menggelar ritual Nambunang Kulkul atau membuat stana Dewi Sri di areal ladang. (*) 

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved