Meski Memasuki Musim Hujan, Petani Sayur Kol di Kintamani Akui Belum Merugi

Tak seperti tahun sebelumnya, musim hujan tahun ini justru membuat petani kol di wilayah Kintamani tak merugi

Meski Memasuki Musim Hujan, Petani Sayur Kol di Kintamani Akui Belum Merugi
Tribun Bali/Fredey Mercury
Petani sayur Desa Kedisan, Kintamani, menujukkan hasil panen mereka, Kamis (20/12/2018). Panen kali ini jauh lebih baik dari musim hujan tahun lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Tak seperti tahun sebelumnya, musim hujan tahun ini justru membuat petani kol di wilayah Kintamani tak merugi. Mereka tampak tersenyum saat dijumpai di ladangnya. Katanya, panen jadi lebih bagus.

Seorang petani sayuran di wilayah Desa Kedisan, Kintamani, I Wayan Arus mengungkapkan, sejatinya produksi sayuran seperti kol atau kubis di kalangan petani tidak mengenal musim.

Produksi bisa dilakukan kapan pun sebab pola tanam kol dalam satu lahan dilakukan berbeda-beda.

"Umumnya untuk tanaman kol memerlukan waktu tiga hingga empat bulan untuk bisa dipanen," ujarnya, Kamis (20/12/2018).

Sayur kol dari Desa Kedisan, Kintamani.
Sayur kol dari Desa Kedisan, Kintamani. (Tribun Bali/Fredey Mercury)

Ia mengatakan, meski di wilayah Bangli telah memasuki musim penghujan pada pertengahan Bulan November, hasil panen kol kali ini menurutnya masih lebih bagus dibandingkan dengan hasil panen tahun sebelumnya dalam musim yang sama.

"Kalau gagal panen itu wajar. Karena selain pengaruh perubahan musim, gagal panen juga dipengaruhi faktor penyakit tanaman. Namun dari hasil panen sekarang, yang rusak jumlahnya sedikit, hanya 15 persen saja," katanya.

Di samping minimnya kerusakan produksi, harga kol pada panen kali ini juga diakui tergolong lumayan.

Untuk kualitas super yang telah dipanen lebih awal dihargai Rp 7.000 atau naik Rp 1.000 dari panen sebelumnya. Sedangkan kualitas biasa yang dipanen saat ini, dihargai Rp 4.500 per kilogram.

Dijual ke Restoran
Setelah panen, petani kemudian melakukan pemilahan. Untuk kualitas super akan dijual ke hotel atau restoran. Sedangkan yang kualitas biasa akan dijual ke pasar pada umunya. Beda kualitas super dan biasa ada pada beratnya.

"Satu buah kol dengan kualitas super biasanya memiliki berat dua hingga dua setengah kilogram. Sedangkan sisanya ini kualitas biasa, dijualnya ke pasar. Seperti pasar di wilayah Klungkung, Badung, hingga pasar Baturiti, Tabanan," ujar Wayan Arus. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved