Warisan Gong Manolin di Banjar Mincidan Klungkung, Sempat Dicap Komunis Saat Gegar Politik 1965

Redupnya kesenian gong manolin dimulai sekitar tahun 1965, atau saat peristiwa G30S/PKI wilayah Mincidan

Warisan Gong Manolin di Banjar Mincidan Klungkung, Sempat Dicap Komunis Saat Gegar Politik 1965
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Sekaa Swarga Swari, Banjar Mincidan, Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Klungkung, sedang memainkan gamelan Gong Nolin. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Banjar Mincidan, Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Klungkung, menjadi lokasi berkembanganya kesenian legendaris gong manolin.

Kesenian yang diadopsi dari negeri China ini nyaris punah dan sudah dilakukan upaya rekontruksi oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) sejak tahun 2017 lalu.

Seorang tokoh setempat yang hingga saat ini mendalami kesenian gong manolin, Wayan Soma menjelaskan, kesenian itu berkembang  sekitar 1948 silam. Alat musik ini serupa dengan alat musik manolin yang kerap dimainkan oleh warga saat mereka pulang dari sawah.

Selain itu, alat musik ini juga kerap dimainkan untuk mengisi acara hiburan dan juga digunakan mengiringi upacara piodalan di pura dan prosesi upacara perkawinan.

"Walaupun diadopsi dari China dalam perkembanganya alat musik ini dikolaborasikan untuk mengiringi gamelan Bali," ujar Soma.

Alat musik manolin
Alat musik manolin (Tribun Bali/Eka Mita Suputra)

Redupnya kesenian gong manolin dimulai sekitar tahun 1965, atau saat peristiwa G30S/PKI wilayah Mincidan. Segala kesenian yang berbau China saat itu dicap komunis sehingga tidak ada yang berani memainkan musik manolin.

Bahkan peristiwa ini membuat keberadaan alat musik manolin sempat lenyap di Banjar Mincidan.

Sampai pada akhirnya di era'70 an, seorang warga bernama Wayan Mendra (73), secara tidak sengaja menemukan sebuah alat musik manolin saat dia bekerja di Toko milik orang China di Kota Semarapura.

Kondisi alat musik manolin itu sudah terbengkelai dan tidak terawat. Wayan Mendra lalu meminta alat musik itu kepada majikannya dan pemilik toko mengizinkan dengan cuma-cuma.

Setelah diberikan sentuhan perawatan, Mendra kembali mengingat-ngingat tembang yang pernah dimainkan di era 1948, secara mandiri di rumahnya.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved