Olah Sampah Plastik dengan Metode Ecobrick, Hasil Karya Gede Praja Berdaya Tahan Lama

Pria 28 tahun ini memanfaatkan bekas botol minuman dan sampah plastik yang dibuang masyarakat untuk dijadikan barang bernilai

Olah Sampah Plastik dengan Metode Ecobrick, Hasil Karya Gede Praja Berdaya Tahan Lama
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
ACOBRICK - Gede Paraja Mahardika menunjukkan hasil pengolahan sampah dengan metode ecobrick, yang dibentuk menjadi meja dan kursi bernilai guna, Senin (24/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Bekas botol air mineral menumpuk di kediaman Gede Praja Mahardika, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Senin (24/12/2018).

Pria 28 tahun ini memanfaatkan bekas botol minuman dan sampah plastik yang dibuang masyarakat untuk dijadikan barang bernilai.

Dari tangan kreatifnya, sampah plastik ia bentuk menjadi meja dan kursi.

Hal yang dilakukan oleh Gede Praja ini merupakan langkah efektif dan efesien dalam mengolah sampah plastik, yang biasa disebut dengan metode ecobrick.

Pencanangan Bali bebas sampah plastik oleh pemerintah kurang tepat.

Bali, katanya, akan lebih baik jika mampu mengolah sampah plastik sendiri. 

"Bungkus-bungkus makanan itu masih banyak yang menggunakan plastik. Saat didaur ulang, tidak akan menghasilkan plastik yang berkualitas, pasti nilainya lebih rendah. Lebih baik jika dibuat menjadi barang yang bisa digunakan, lebih tahan lama," katanya.

Meski kursi dan meja yang dibuat Gede Paraja terbuat dari plastik, kekuatannya tak perlu diragukan.

Satu botol minuman diisi dan dipadati dengan sampah plastik hingga beratnya mencapai 200 hingga 600 gram.

Sementara untuk membuat kursi, Gede Praja biasanya menggunakan delapan hingga 10 botol minuman berisi sampah plastik.

"Hasil ecobrick ini sih tidak pernah saya jual. Saya hanya memanfaatkannya sendiri dibentuk menjadi meja, kursi, pembatas ruangan, dan pembatas tepi kebun. Ini sebagai bentuk pertanggung jawaban saya terhadap sampah plastik yang saya hasilkan sendiri setiap hari. Jadi kalau beli minuman dapat sedotan, sedotannya saya potong kecil-kecil, lalu saya masukan ke dalam bekas botol," jelasnya.

Ia mengaku telah menyosialisasikan metode ecobrick kepada sejumlah sekolah dan desa yang ada di Buleleng.

Hasilnya, masyarakat sangat antusias.

Utamanya di sekolahan dalam mata pelajaran tertentu, siswa diwajibkan membawa satu ecobrick untuk dikumpulkan, kemudian dibentuk menjadi barang-barang bernilai guna.

"Saya melihat orang-orang selama ini hanya membicarakan masalahnya tanpa mencarikan solusinya. Dan juga masih menggunakan sistem lama, yaitu kumpul, angkut dan buang. Masyarakat Buleleng yang membuat ecobrick memang baru hitungan jari. Namun saat ini, masyarakat coba lah untuk tidak menyalahkan plastik yang dapat mencemari lingkungan, tapi mari mulai mengelola plastik dengan cara yang sederhana dan nyata," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved