Menhub Tinjau Lokasi Pembangunan Bandara Bali Utara, Ini Yang Disampaikan Melalui Dirjen Perhubungan

Menhub Tinjau Lokasi Pembangunan Bandara Bali Utara, Begini Yang Disampaikannya Melalui Dirjen Perhubungan Udara

Menhub Tinjau Lokasi Pembangunan Bandara Bali Utara, Ini Yang Disampaikan Melalui Dirjen Perhubungan
Tribun Bali
Ilustrasi tempat pembangunan Bandara Bali Utara 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Menggunakan Helikopter Dimonim Air Registrasi AS350 B2 dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali, Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi didampingi Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti, Minggu (30/12/2018) siang meninjau lokasi yang akan dibangun Bandara Bali Utara di daerah Kubutambahan, Singaraja.

Begitu tiba di lokasi, Menhub Budi Karya dan Dirjen Hubud Polana Pramesti di sambut oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Buleleng Agus Suradnyana.

Seusai melakukan kunjungan meninjau langsung lokasi, keduanya pun kembali ke Bandara I Gusti Ngurah Rai menggunakan Helikopter.

Menhub Budi Karya kemudian menuju tempatnya menginap.

Baca: Gunakan Tanah Adat 420 Hektare, Bandara Bali Utara Disepakati di Darat

Baca: Puncak Pergerakan Penumpang di Bandara Ngurah Rai Diprediksi Terjadi pada 4 Januari 2019 

 “Kami tadi melihat calon lokasi Bandar Udara di Bali Utara. Secara garis besar, lahannya sebagian besar merupakan lahan milik adat. Dan Pak Gubernur dan Pak Bupati sudah menjanjikan bahwa lahan tidak ada masalah,” ungkap Polana Pramesti di Posko Terpadu Monitoring Angkutan Natal Tahun 2018 dan Tahun Baru 2019.

 Mendapatkan jaminan dari gubernur dan bupati mengenai lahan tidak ada masalah, pihak Kemenhub selanjutnya memroses pembentukan dan penetapan Bandar Udara baru di Bali Utara tersebut.

 “Secara umum tidak ada masalah tetapi memang ada beberapa catatan karena itu lahannya lahan desa yang dimiliki desa sehingga tidak perlu pembebasan lahan,” tuturnya.

 Proses pembangunan baru dapat dilakukan pada tahun 2020 karena proses selanjutnya masih panjang dan kurang lebih paling cepat memakan waktu 1 tahun.

 Pembuatan rencana induk, penetapan lokasi, proses perencanaan dan lainnya kurang lebih satu tahun. “Paling cepat proses pembangunan di tahun 2020 nanti,” tambah Polana.

 Kebutuhan lahan untuk Bandar Udara baru Bali Utara mencapai 400 hektar tanah dan seluruhnya di lahan daratan tidak dilakukan reklamasi.

Baca: Dukung Kelancaran Operasional Selama Nataru, Angkasa Pura Airports Maksimalkan AOCC di 11 Bandara

 “Kebutuhan lahan kurang lebih 400 hektar dan menurut Bupati Buleleng luasan yang dibutuhkan dengan lahan yang disediakan sudah sesuai. Kalau melihat dari aspek operasi sangat bagus sekali lahan tersebut digunakan sebagai lahan Bandar Udara,” tutur Polana.

 Polana menyampaikan di lahan tersebut tidak ada obstacle, dari aspek sosial paling sedikit karena tidak ada Pura, tidak ada makam, dan masyarakatnya tidak terlalu banyak. 

 “Aspek sosial, aspek operasi dan aspek teknis tidak ada masalah. Tetapi pemerintah daerah harus menyiapkan jalan akses dari selatan ke utara,” imbuhnya.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved