Serba Serbi

Kuningan Bertepatan dengan Siwaratri, Bagaimana Cara Merayakan Keduanya?

Hari Raya Kuningan yang dilaksanakan setiap 210 atau enam bulan sekali merupakan rangkaian dari Galungan.

Kuningan Bertepatan dengan Siwaratri, Bagaimana Cara Merayakan Keduanya?
Tribun Bali / Rizal Fanany
Tradisi Ngerebong di Pura Dalam Petilan, Kesiman, Denpasar. Minggu (2/8/2015). Tradisi Ngerebong merupakan tradisi yang dilaksanakan 6 bulan sekali setelah hari raya Kuningan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hari Raya Kuningan yang dilaksanakan setiap Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Kuningan untuk kali ini dilaksanakan bersamaan dengan perayaan Siwaratri yang dilaksanakan pada purwani atau sehari sebelum Tilem Kapitu.

Pelaksanaannya bersamaan pada Sabtu (5/1/2019).

Hari Raya Kuningan yang dilaksanakan setiap 210 atau enam bulan sekali merupakan rangkaian dari Galungan.

Menurut Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika saat dihubungi, Kamis (3/1/2019) siang mengatakan, dalam Lontar Sundarigama telah disebutkan upacara menghaturkan sesaji pada hari Raya Kuningan hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan menghindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. 

"Mengapa? Karena diyakini bahwa pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara kembali ke alamnya masing-masing setelah turun ke Bumi," katanya.

Akan tetapi, bukan berarti bahwa yang melaksanakan Kuningan sore atau malam hari itu salah. 

"Desa (tempat), Kala (waktu) dan Tattwa (hakekat) tetap menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaannya. Dan sesungguhnya Kuningan itu adalah masih lanjutan momen Galungan untuk menempa jati diri secara rohani dalam rangka memenangkan dharma terhadap adharma, bukan secara ritual semata," katanya.

Karena pada Penampahan Kuningan yang jatuh pada Jumat Wage wuku Kuningan, dalam Lontar Sundarigama tidak menyebutkan upacara yang mesti dilakukan, namun menyebutkan "sapuhakena malaning jnyana".

"Artinya lenyapkanlah kekotoran pikiran. Dalam Galungan kekotoran pikiran ini disebut "byaparaning idep" yang harus dilebur dengan Samadhi," paparnya.

Sementara untuk Hari Raya Siwaratri yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu, menurutnya, pada hakikatnya adalah Namasmaranam pada Nama Siwa, yang artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan segala kegelapan batin. 

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved