Citizen Journalism

Plastik Detox Bali Bantu Pelaku Usaha Kecil Memulai Kurangi Sampah Plastik

Akhir Desember 2018, Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur No 97 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Plastik Detox Bali Bantu Pelaku Usaha Kecil Memulai Kurangi Sampah Plastik
Tribun Bali/Dwi S
Gubernur Bali keluarkan peraturan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai. 

Penulis: Koordinator Plastik Detox Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Akhir Desember 2018, Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur No 97 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Ribuan gayung bersambut, tapi ada juga yang ribut. Memang mau bungkus pakai daun?

Ya bisa saja pakai daun, khusus untuk makanan tertentu. Pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai ini bukan bermakna larangan. Namun lebih untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai (PSP) yaitu kantong kresek, styrofoam dan sedotan plastik.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, volume rata-rata timbulan sampah di Bali pada tahun 2017 yaitu 10.849,10 m3/hari. Adapun komposisi sampah di Bali terdiri dari sampah organik sebanyak 60 persen, anorganik 30 persen, dan residunya 10 persen. Berdasarkan data dari GIZ tahun 2013, hanya 4,6% produk dari plastik yang terdaur ulang di Indonesia.

Poin utama peraturan gubernur ini yaitu produsen, distributor, pemasok, pelaku usaha dan penyedia PSP dilarang untuk menyediakan PSP, melainkan menyediakan produk pengganti PSP yang ramah lingkungan.

Terang saja itu tak mudah bagi mereka untuk berubah. Menariknya, dalam peraturan gubernur ini, mereka berhak mendapatkan informasi mengenai pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai dari tim pendamping dan pengawas yang segera akan dibentuk oleh gubernur.

Begitu pula masyarakat diwajibkan dapat berperan aktif dalam pembatasan timbulan sampah PSP seperti aktif mencegah bahkan tidak menggunakan PSP dalam kegiatan sehari-hari.

Demi mencapai tujuan peraturan gubernur itu perlu adanya penyesuaian dari kebiasaan ‘selalu pakai kresek, sedotan dan styrofoam’ saat berbelanja.

Perubahan perilaku menahun ini tak bisa diubah dalam sekejap mata. Semua butuh proses dan pembiasaan. Ide-ide untuk mendukung proses ini telah dimulai oleh Plastik Detox Bali sejak 2012.

Halaman
123
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved