KPPAD Bali Imbau para Orangtua Waspadai Tawaran Kerja Gaji Tinggi pada Anak-anak

Gede Yastini mengimbau komponen masyarakat untuk waspada terhadap kejahatan human trafficking

KPPAD Bali Imbau para Orangtua Waspadai Tawaran Kerja Gaji Tinggi pada Anak-anak
www.stop-child-trafficking.org
Ilustrasi human trafficking. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komisioner Divisi Advokasi dan Hukum, Komisi Penyelanggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Ni Luh Gede Yastini mengimbau komponen masyarakat untuk waspada terhadap kejahatan human trafficking (perdagangan manusia) dan yang sejenisnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan agar para petugas yang mengurus administrasi dokumen ketenagakerjaan di Bali untuk tidak membuat kekeliruan.

"Bali sekarang banyak jadi penerima dan tempat transit kasus-kasus human trafficking. Tapi bisa juga Bali jadi pengirim. Karena banyak juga yang ingin bekerja di luar. Bukan hanya dalam arti ke luar negeri, tapi di berbagai tempat di Indonesia di luar Bali," jelas Yastini ketika dihubungi Tribun Bali, Sabtu (5/1/2019).

"Aparat kita harus waspada. Karena anak-anak gak bisa, misalkan ke luar negeri dengan umur yang masih di bawah ketentuan untuk bekerja. Jadi di situ bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk memanipulasi usia, dari yang sesungguhnya masih di bawah umur diubah menjadi berumur 22-25 tahun misalnya," terang Yastini.

Pada titik ini, kata dia, agak sulit untuk membongkar kasus trafficking kecuali ada laporan.

Ia pun pernah mendapat informasi, ada seorang anak di bawah umur di Bali, yang dipekerjakan dalam lingkaran pelaku trafficking.

Namun, di beberapa tempat yang sudah dicurigai, tiba-tiba tidak ada korbannya saat diperiksa.

"Ada itu, seorang anak yang berasal dari salah-satu kabupaten di Bali dipekerjakan. Tapi beberapa kali kita lakukan penyelidikan, masih belum diketemukan. Pernah, beberapa tempat kita sudah curigai. Tapi pas ke sana tiba-tiba gak ada anak yang dimaksud. Hilang, jadi susah sekali gitu. Itu terjadi seperti di tempat spa," tutur Yastini.

"Jangan sampai misalnya ada oknum pengurus administrasi kependudukan atau ketenagakerjaan melakukan manipulasi umur. Biasanya ini dimanfaatkan sebagai celah oleh kelompok atau jaringan trafficking," imbuhnya.

Terhadap warga masyarakat, khususnya orangtua, Yastini menganjurkan agar mencari tahu lebih dalam jika ada tawaran pekerjaan dengan gaji menggiurkan kepada anak-anak mereka. 

Menurut Yastini, Bali terindikasi sering jadi transit untuk praktik traffciking, karena Bali merupakan wilayah dengan lalu lintas internasional cukup tinggi. 

Kata Yastini, ada golongan penerima seperti yang tertangkap di Sanur Denpasar pada Jumat (4/1/2019) lalu.

"Tapi itu tadi, kita harus mewaspadai yang pengirim juga bisa dari Bali. Mengirim tenaga kerja ilegal yang berunsur trafficking dari Bali ke luar. Jangan sampai ada lagi korban. Mawas diri-lah para orangtua," kata Yastini yang juga mantan Direktur LBH Bali itu.

Ia menekankan, untuk kasus TPPO yang korbannya anak di bawah umur, KPPAD Bali akan terus mengawal agar pelaku dan jaringannya mendapatkan hukuman maksimal.

Pihaknya tengah berkoordinasi dengan daerah asal anak. Jikalau para korban mau untuk dipulangkan, pihaknya akan bantu mengkoordinasikannya.(*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved