Serba Serbi

Buda Cemeng Langkir, Apa Maknanya?

Buda Wage Langkir atau bisa juga disebut Buda Cemeng Langkir dirayakan hari ini, Rabu (9/1/2019).

Buda Cemeng Langkir, Apa Maknanya?
Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi orang sembahyang 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Buda Wage Langkir atau bisa juga disebut Buda Cemeng Langkir dirayakan hari ini, Rabu (9/1/2019).

Buda Wage Langkir ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya empat hari setelah Hari Raya Kuningan.

Hari raya ini merupakan hari raya berdasarkan wuku yaitu Langkir dan pertemuan antara Saptawara Rabu (Buda) dan Pancawara Wage.

Terkait Buda Cemeng ini, dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksma pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.

Artinya:

Buda Wage juga disebut Buda Cemeng.

Pada saat ini seseorang diharapkan mewujudkan inti hakekat kesucian paikiran, yakni bisa mengendalikan sifat-sifat kenafsuan.

Itulah yoga dari Bhatari Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amerta atau inti hakekat kehidupan, ke dalam dunia skala atau dunia manusia.

Adapun upakara yang dipersembahkan saat Buda Cemeng ini yakni wangi-wangian.

Melakukan pemujaan di sanggar dan di atas tempat tidur serta menghaturkan kepada Sang Hyang Sri.

Pada malam harinya melakukan renungan suci.

Pada hari ini juga merupakan pujawali atau odalan di Pura Tanah Lot, Desa Beraban, Kediri, Tabanan. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved