Traffic Movement 2018 AirNav Indonesia Cabang Denpasar Naik 10,84 Persen Dibanding Tahun Lalu

Tahun 2018 ini pertumbuhan traffic movement Bali mencapai 10,84 persen di AirNav Indonesia Cabang Denpasar

Traffic Movement 2018 AirNav Indonesia Cabang Denpasar Naik 10,84 Persen Dibanding Tahun Lalu
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana pergerakan pesawat yang dipantau oleh Petugas Airnav Indonesia Cabang Denpasar dari Tower TC Bandara I Gusti Ngurah Rai, Rabu (9/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sebagai daerah tujuan pariwisata, banyak wisatawan berkunjung ke Bali, dan tahun 2018 ini pertumbuhan traffic movement Bali mencapai 10,84 persen di AirNav Indonesia Cabang Denpasar.

“Total traffic hingga akhir tahun 2018 sebanyak 162.995 pergerakan. Dengan komposisi penerbangan domestik 55 persen dan 45 persen internasional. Atau di Tahun 2017 hanya 147.256 pergerakan,” jelas General Manager AirNav Indonesia Cabang Denpasar, Rosedi, Rabu (9/1/2019).

Rosedi menyampaikan, pada Tahun 2015 traffic movement sempat mengalami penurunan mencapai 2,73 persen, disebabkan dampak aktifitas vulkanologi Gunung Raung.

Dan pada bulan November Tahun 2017 juga terjadi penurunan traffic movement karena dampak penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai selama 2,5 hari disebabkan erupsi Gunung Agung.

Ia menambahkan, merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pengelola Bandara maupun Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan di Bali untuk mengoptimalkan pelayanan maupun dari sisi sarana dan prasarana pendukung, sehingga tercipta optimalisme pelayanan penerbangan.

AirNav Indonesia Cabang Denpasar berharap tahun 2019 mendatang slot penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai meningkat menjadi 35 slot penerbangan per jam.

Hal tersebut diharapkan dapat terwujud dengan adanya dan realisasi penambahan dua rapid exit taxiway (RET) baru, perluasan apron dan perluasan landasan pacu ke arah barat di Bandara tersibuk ketiga di Indonesia ini. 

Dimana saat ini terdapat dua rapid exit taxiway di Bandara I Gusti Ngurah Rai, jika ada penambahan lagi tentu akan mengurangi antrean pesawat.

“RET akan membantu memperkecil waktu penggunaan landasan yang akan mengakibatkan penambahan kapasitas landasan dan berdampak pada peningkatan slot, yang tentunya bisa meningkatkan jumlah penerbangan yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai. Utamanya penambahan international flight untuk pendukung program pemerintah,” ungkapnya.

Ada beberapa peralatan terbaru yang digunakan untuk memaksimalkan layanan.

Seperti Awos untuk memberikan informasi data cuaca, Lidar untuk memantau sebaran abu vulkanik sejauh 20 km, hingga wind profiler untuk mendeteksi potensi angin kencang, client radar untuk meningkatkan akurasi informasi cuaca.

Selain itu, juga memiliki airfield lighting (AFL) untuk menyalakan listrik runway dengan touch screen.

Ia menyampaikan bahwa Bandara I Gusti Ngurah Rai sendiri merupakan bandara dengan jumlah 41 maskapai di Indonesia mengalahkan Bandara Soekarno-Hatta.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved