Merunut Perjalanan dan Pemikiran A.A. Made Djelantik Melalui “Bening Embun”

Anak Agung Made Djelantik merupakan sosok budayawan Bali, seorang dokter sekaligus putra Raja Karangasem Anglurah Ketut Karangasem dan Makele Selaga

Merunut Perjalanan dan Pemikiran A.A. Made Djelantik Melalui “Bening Embun”
Istimewa
Perjalanan hidup dan sejarah pemikiran A. A. Made Djelantik dibincangkan secara khusus pada program Timbang Pandang yang berlangsung Jumat (11/1/2019) kemarin, di Auditorium A. A. Made Djelantik, Gedung Lt. 4 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman, Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Anak Agung Made Djelantik merupakan sosok budayawan Bali, seorang dokter sekaligus putra Raja Karangasem Anglurah Ketut Karangasem dan Makele Selaga.

Perjalanan hidup dan sejarah pemikiran beliau dibincangkan secara khusus pada program Timbang Pandang yang berlangsung Jumat (11/1/2019) kemarin, di Auditorium A. A. Made Djelantik, Gedung Lt. 4 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman, Denpasar.

Timbang pandang ini merujuk buku “Bening Embun: Perjalanan A. A. Made Djelantik”, sebuah biografi yang ditulis oleh Dr. Nyoman Wijaya.  

Dokter A. A. Made Djelantik berpulang pada 5 September 2007 dalam usia 88 tahun, di Wings Internasional, RSUP Sanglah, Denpasar.

Sebagai narasumber dialog yakni budayawan I Wayan Juniarta, dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, FHEA (dokter, akademisi, pengamat sastra), serta penulis buku Dr. I Nyoman Wijaya.

Pada kesempatan itu hadir pula dr. Ayu Bulantrisna Djelantik, turut berbagi pandangan perihal sosok sang ayah.

Acara ini merupakan kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan Bulantrisna Djelantik, serta didukung Bentara Budaya Bali.

Timbang pandang bukan saja membincangkan kisah hidup A. A. Made Djelantik, melainkan juga pandangan kebudayaan serta sikap kritisnya dalam mengelola kesehatan masyarakat Bali secara holistik melalui pendekatan yang lintas bidang.

“Dokter A. A. Made Djelantik adalah seorang generasi emas Bali. Karakteristik generasi beliau adalah well-educated dengan metode keilmuan dan sangat konservatif dengan budaya Bali. Jadi secara mindset seperti orang Barat, namun hatinya tetap di Bali. Selain itu, keberaniannya melakukan debat publik turut memajukan pemikiran modern di Bali saat itu. Beliau menggabungkan civilization dari Barat dan Bali,“ ungkap Wayan Juniarta, budayawan yang juga Ketua Program Indonesia Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

A.A. Made Djelantik menempuh pendidikan Hollandsch-Inlandsche School/HIS Denpasar, Bali, kemudian ke Meerleetgebreid Langer Orderwijs/MULO Malang, Jawa Timur dan Algemene Middlebare School/AMS Yogyakarta.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved