Penerapan Perda 13 untuk Lindungi Toko Kecil, 'Kalau Nongkrong Bisa di Warung Milik Rakyat Kecil'

Perda Klungkung Nomor 13 Tahun 2018 mendapat tanggapan dari Ketua Badan Pembentukan Perda DPRD Klungkung

Penerapan Perda 13 untuk Lindungi Toko Kecil, 'Kalau Nongkrong Bisa di Warung Milik Rakyat Kecil'
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Ketua Badan Pembentukan Perda DPRD Klungkung, Gde Artison Andarawarta. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Keluhan warga terkait penerapan Perda Klungkung Nomor 13 Tahun 2018 tentang penataan dan pembinaan pasar rakyat, pusat pembelanjaan dan toko swalayan, mendapat tanggapan dari Ketua Badan Pembentukan Perda DPRD Klungkung, Gde Artison Andarawarta.

Menurut Politisi Partai Demokrat itu, masyarakat sudah salah kaprah terkait maksud dari penerapan Perda tersebut.

"Kenapa masalah nongkrong yang dibahas? Kalau nongkrong di warung, ada kopi ada rokok, yang berkurang cuma gengsi saja," ujar Politisi yang biasa dipanggil Sony, Senin (14/1/2019).

Ia menjelaskan, Perda tersebut untuk mengatur operasional swalayan retail bukan warung/toko rakyat.

Perda itu juga memiliki tujuan untuk melindungi toko rakyat agar perputaran modal juga terjadi di Klungkung, bukan disedot keluar/pusat dari toko swalayan berjejaring yang rata-rata berpusat di ibukota atau kota-kota besar.

Menurutnya, pasti warung-warung usaha kecil dari masyarakat, tidak sanggup bersaing dengan toko-toko retail berjejaring.

Melalui Perda ini, toko/usaha rakyat diberi kesempatan bersaing.

Namun harus sesuai aturan kepala daerah dalam hal ini Bupati dan tentu urus izinnya.

Termasuk pembatasan zona/jarak dengan pasar rakyat atau warung atau toko rakyat (modal kecil)

"Jadi tidak mematikan usaha kecil lokal yang pasti kalah modal, kalah jaringan dan kalah dalam sistem dengan swalayan retail berjejaring. Waktu dibuatkan aturan untuk melindungi warung kita, pasar rakyat kita, jangan komplain lah," terangnya.

Sebelumnya Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta bertindak tegas terhadap toko/swalayan berjejaring yang buka 24 jam.

Berdasarkan Perda tersebut, jam buka swalayan retail di Klungkung dibatasi hingga pukul 22.00 Wita.

"Saya ingin Klungkung lebih tertib, tidak ada lagi anak-anak kita yang nongkrong-nongrong hingga dini hari di depan toko seperti ini," jelasnya. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved