Disbud Tabanan Usulkan Empat Karya Budaya Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Empat buah karya budaya yang dimiliki Kabupaten Tabanan saat ini telah diusulkan oleh Dinas Kebudayaan Tabanan menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Disbud Tabanan Usulkan Empat Karya Budaya Menjadi Warisan Budaya Tak Benda
Tribun Bali/Ahmad Firizqi Irwan
Puri Kediri Tabanan menggelar ritual ngerebeg mengarak Keris Ki Baru Gajah dari Puri Kediri Tabanan menuju Pura Luhur Pakendungan, Tanah Lot, Tabanan, Sabtu (5/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Empat buah karya budaya yang dimiliki Kabupaten Tabanan saat ini telah diusulkan oleh Dinas Kebudayaan Tabanan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Pemerintah Pusat.

Hingga saat ini, empat karya budaya tersebut masih dalam tahap pembahasan dan pengajuan melalui Dinas Kebudayaan dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB).

Empat karya budaya yang diajukan Dinas Kebudayaan Tabanan diantaranya adalah permainan tradisional Megandu di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga.

Kemudian tradisi Ngerebeg yang juga terkait dengan Keris Ki Baru Gajah di Desa Kediri, Kecamatan Kediri.

Serta ada dua kuliner khas Tabanan yakni Jukut Gondo dan Teh Beras Merah.

Pemkab Tabanan menyiapkan anggaran sekitar Rp 50 juta untuk pengajuan empat karya budaya tersebut.

“Sebelumnya sudah kami rapatkan dan sudah kita ajukan sekitar sepekan yang lalu tepatnya hari Rabu (9/1/2019) lalu,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Gusti Ngurah Supanji, Senin (14/1/2019) seraya mengatakan akan ada pembahasan lebih lanjut termasuk melengkapi semua administrasi yang diperlukan.  

Dia melanjutkan, pendaftaran empat karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda tersebut bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa karya budaya ini berasal dari Kabupaten Tabanan.

“Penyampaian pesan ke masyarakat, ini lo trade mark kita atau ini lo yang dimiliki Tabanan. Sehingga, jangan sampai punya Tabanan diklaim oleh orang/daerah lain,”  jelasnya seraya menyatakan pengajuan karya tersebut dilakukan melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali atau Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) di Bali.  

Supanji menerangkan, persiapan untuk pengajuan empat karya ini sudah dilakukan sejak lama.

Karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seperti kajian ilmiah, dokumentasi, dan audio visualnya. Dan empat ini diklaim sudah memenuhi persyaratan tersebut.

Dia mencotohkan, seperti pada tradisi Ngerebeg di Kediri, sudah ada dua judul tesis yang mengangkat atau meneliti tentang tradisi tersebut.

Dua penelitian akademik itu sekaligus menjadi acuan bagi syarat kajian ilmiahnya. Kemudian juga dilengkapi dengan dikumentasi dan audio visualnya.

“Empat ini dulu kita fokuskan karena yang sudah lengkap kajian ilmiahnya, dokumentasinya, dan audio visualnya. Karena jika belum siap kita tidak bisa ajukan. Dan masih ada banyak yang dimiliki Tabanan yang sudah diajukan, namun kajian ilmiahnya masih belum lengkap,” terangnya. 

“Intinya kami ajukan, soal layak tak layak itu dinilai lagi oleh tim. Dan jika misalnya dari empat masih ada yang beum layak, kami ajukan lagi di tahun berikutnya,” tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved