Rembug Sastra Purnama Kaulu, Eriadi: Masyarakat Bali hanya Fokus pada Ritus

Namun saat ini kecenderungannya masyarakat Bali hanya terfokus pada ritus, bukan menilai ritual itu dalam tataran pemaknaan.

Rembug Sastra Purnama Kaulu, Eriadi: Masyarakat Bali hanya Fokus pada Ritus
TRIBUN BALI/I WAYAN SUI SUADNYANA
I Ketut Eriadi Ariana (kiri) saat menjadi narasumber dalam Rembug Sastra Purnama Badrawada edisi Purnama Kaulu di Pura Jagatnata Denpasar, Minggu (20/1/2019) 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Siapa yang tidak tahu bahwa Bali memiliki banyak karya sastra, baik lisan maupun tulisan.

Dari berbagai sastra itu, ternyata banyak pula yang mengedepankan manusia untuk serta merta dalam menjaga lingkungan.

Dalam sebuah makalah yang berjudul “Narasi-Narasi Ekologi dari Balik Bukit: Sebuah Catatan Pinggir”, I Ketut Eriadi Ariana mengulas tradisi sastra tulis dan sastra lisan Bali itu yang turut serta mengarahkan pembaca dan penghayatnya untuk lebih menghargai lingkungan.

Hal itu Eri paparkan dalam "Rembug Sastra Purnama Badrawada" edisi Purnama Kaulu di Pura Jagatnata Denpasar, Minggu (20/1/2019) yang mendiskusikan hubungan sastra kuna dan ekologi.

Dijelaskan Eri, teks-teks seperti "Usana Bali" dan Kuttara "Kanda Dewa Purana Bangsul" pada dasarnya berupaya mewujudkan Tuhan dalam bentuk fisik sebagai gunung-gunung dan perbukitan.

Maka baginya, menjaga wujud fisik itu sesungguhnya merupakan sebuah yadnya yang jauh lebih penting.

Baca: TRIBUN WIKI: 10 Hantu dan Makhluk Halus yang Dipercaya Masyarakat Bali

Baca: Begini Cara Raja Bali Kuno Melakukan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Bali

“Namun saat ini kecenderungannya masyarakat Bali hanya terfokus pada ritus, bukan menilai ritual itu dalam tataran pemaknaan. Salah satu yang nyata, belum lama ini gerakan umat di kawasan Gunung Lempuyang membuktikan bahwa masih banyak masyarakat ketika bersembahyang ke kawasan suci juga membuang sampahnya di kawasan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, tuturan lisan yang hingga saat ini banyak hidup dari kawasan pegunungan Bali juga mengetengahkan hal senada.

Dicontohkan Eri, mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah menyatakan bahwa masyarakat Bali berkewajiban menjaga kawasan Kaldera Batur, khususnya Danau Batur sebagai salah satu sumber air yang penting di Bali.

Proses menjaga itu saat ini juga diwujudkan dalam berbagai bentuk berbagai ritual yang turut melibatkan berbagai elemen subak.

Namun nyatanya, di tengah pelaksanaan ritual-ritual menjaga air Danau Batur, saat ini Danau Batur (dan danau-danau lainnya di Bali) justru tercemar.

Selain itu, puncak Gunung Batur yang dimitoskan sebagai lingga suci Hyang Dewi Danuh juga tengah mengalami proses “perataan” guna memenuhi kebutuhan pariwisata.

“Kondisi ini merupakan bentuk pengingkaran kita pada sistem kepercayaan yang dibangun leluhur terdahulu dan masih kita lakoni hingga kini dalam bentuk pelaksanaan keagamaan. Di satu sisi masyarakat Bali menyatakan itu kawasan suci, tapi pada sisi lainnya juga merenggut kesuciannya,” jelas pemuda asal Batur, Kintamani, Bangli yang juga sebagau Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli itu. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved