Dengar 3 Kali Suara Gemuruh Sebelum Longsor, Nanang: Saya Lihat Rumahnya Ambles, Ngeri Sekali! 

“Cukup sekali saja saya melihat rumah ambles seperti ini, ngeri sekali,” kata Nanang Sugianto, seorang warga Perumahan Multi Griya Sandan

Dengar 3 Kali Suara Gemuruh Sebelum Longsor, Nanang: Saya Lihat Rumahnya Ambles, Ngeri Sekali! 
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Suasana sebuah rumah di perumahan Sandan Sari Blok G Nomor 42, Sanggulan, Banjar Jadi Desa, Desa Banajr Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, amblas, Selasa (22/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – “Cukup sekali saja saya melihat rumah ambles seperti ini, ngeri sekali,” kata Nanang Sugianto, seorang warga Perumahan Multi Griya Sandan Sari Blok G Bawah Nomor 43, Banjar Jadi Desa, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, Selasa (22/1) pagi.

Nanang merupakan salah satu saksi mata langsung ketika satu rumah di Blok G Nomor 42 di perumahan tersebut ambles ke Sungai Yeh Pandan, Senin (21/1) sekitar pukul 21.45 Wita.

Jarak rumah Nanang dengan rumah ambles yang berada di posisi paling pojok itu hanya tiga meter.

Saat peristiwa ini terjadi, Nanang mendengar suara gemuruh. Setidaknya, kata dia, tiga kali terdengar gemuruh di Sungai Yen Pandan. Saat bersamaan hujan cukup deras dan angin kencang.

“Saya dengar suara gemuruh keras sekali. Saat itu saya sedang menyelesaikan tugas kantor di dalam rumah. Istri dan anak saya sudah tidur semua."

"Setelah dengar gemuruh masih belum ngeh saya, tapi ketika buka pintu rumah, pandangan saya kan langsung ke situ (rumah ambles), ternyata benar rumah tersebut hanya kelihatan setengahnya saja."

"Dan saat itu juga saya bangunin istri dan anak saya agar segera pergi, dan baru sampai di muka pintu rumah saya, rumah itu sudah gak ada lagi,” tutur Nanang, yang terlihat masih syok mengingat kejadian tersebut.

Baca: Semalaman Diguyur Hujan dan Angin, 7 Lokasi di Tabanan Longsor, Warga Diimbau Waspada

Amblesnya rumah tersebut diduga akibat jebolnya senderan tanggul penahan rumah yang berada di pinggir sungai.

Senderan tanggul tak kuat akibat terus tergerus air hujan dan aliran sungai yang deras.

Saat kejadian, Nanang dihantui rasa takut dan was-was. Ia khawatir rumahnya ikut amblas. Karenanya malam itu juga dia memilih langsung mengungsi bersama istri dan anaknya.

Halaman
1234
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved