Serba Serbi

Dari 27 Januari hingga 2 Februari Pantang untuk Berhubungan dengan Unggas, Ini Penjelasannya

Selama satu minggu ke depan, mulai dari Minggu (Redite) (27/1/2019) hingga Sabtu (Saniscara) (2/2/2019) ternyata terdapat sebuah pantangan.

Dari 27 Januari hingga 2 Februari Pantang untuk Berhubungan dengan Unggas, Ini Penjelasannya
TRIBUN BALI/I WAYAN SUI SUADNYANA
Kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya dan buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama satu minggu ke depan, mulai dari Minggu (Redite) (27/1/2019 hingga Sabtu (Saniscara) (2/2/2019) ternyata terdapat sebuah pantangan.

Pantangan tersebut berupa hal-hal yang berhubungan dengan unggas.

Hal tersebut dijelaskan dalam buku "Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi" yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga.

Di sana dijelaskan bahwa terdapat sistem ala ayuning dewasa antara pertemuan Ingkel dan Wuku.

"Ingkel adalah ketentuan dalam sistem pawukon yang merupakan pantangan untuk melakukan sesuatu kerja yang terkait dengan ketetapannya," tulisnya.

Penyebab lahirnya pantangan ini karena ada pertemuan antara Ingkel Manuk dengan Wuku Pahang.

Dalam susunan kalender Bali memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya lagi.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Baca: 6 Kala Ini Hadir di Jumat Wuku Medangsia, Lihat Ala Ayuning Dewasanya

Baca: Anak Nakal Cenderung Lebih Sukses Saat Dewasa? Ternyata Ini Alasannya

Baca: Hari Ini Ada Pantangan Membuat Jembatan dan Matenung

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu juga berpedoman pada wewaran yakni tentang nama-nama hari dan dedaunan yang dipakai sebagai ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved